“Sudahkah Saya Mengasihi?”: Renungan, Kamis 23 Mei 2019

0
3031

Hari Biasa Pekan V Paskah (P)

Kis. 15:7-21; Mzm. 96:1-2a,2b-3,10; Yoh. 15:9-11.

Saudara terkasih, semua orang tentunya menghendaki agar dirinya dikasihi oleh orang lain. Entah itu keluarga, sahabat maupun orang-orang yang ada di sekitarnya. Mengasihi sesama, merupakan suatu tindakan yang mulia. Mengasihi berarti, menaruh kasih, mencintai dan menyayangi orang lain dengan semestinya.

Hari ini, penginjil Yohanes mewartakan hal mengasihi itu kepada semua manusia. Yesus dalam pengajaran-Nya, memberi perintah kepada para murid untuk belajar dari Dia dan Bapa yang selalu mengasihi. Yesus menekankan bahwa, jika kita sebagai murid-murid-Nya menuruti perintah-Nya maka, Ia akan tinggal di dalam kita dan kita umat-Nya akan tinggal di dalam Dia, Sang kasih sejati itu. Tinggal di dalam Dia berarti mengambil bagian penuh dalam segala tindakan dan karya-Nya.

Kita semua diajak untuk menjadi orang-orang yang mau untuk mengasihi sesama, tanpa melihat perbedaan yang ada. Yesus yang telah diutus oleh Bapa kepada dunia, telah membuktikan hal itu. Ia mengasihi semua orang, bahkan karena cinta dan pengasihan-Nya yang besar dan mulia itu, Yesus rela memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan atas dosa semua manusia yang ada di dunia ini.

Dalam hidup sehari-hari, kita semua sebagai orang beriman, dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Salah satunya ialah pilihan untuk mengasihi sesama kita. Terkadang, orang menjadi acuh terhadap hal mengasihi ini karena mungkin terlintas dalam benaknya pertanyaan, jika saya harus mengasihi orang lain, apa imbalannya buat diri saya. Kadang pula kita mau mengasihi tetapi selalu was-was karena takut orang lain tidak melakukan hal yang sama kepada kita.

Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati, telah menunjukkan kepada kita bahwa, jika orang mengasihi dengan tulus hati, ia akan mengesampingkan segala kekhawatiran dalam dirinya. Karena orang yang demikian percaya bahwa, Allah telah lebih dahulu mencintai dan mengasihi dia dan akan menyediakan tempat yang layak baginya kelak. Semua itu telah dibuktikan oleh Yesus, ketika ia mengorbankan diri-Nya di kayu salib.

Sebagai Guru, Yesus juga menghendaki kita murid-murid-Nya untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan, dengan berani mengasihi, mencintai, menyayangi orang lain dengan sepenuh hati. Karena dengan tindakan seperti ini, kita menciptakan kebahagiaan kepada orang lain dan kelak, kita juga mengalami kebahagiaan itu bersama Bapa di surga. Pertanyaannya, sudahkah saya mengasihi?

(Fr. Johanis Raharusun)

“Tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh. 15:9b).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarilah kami untuk selalu mengasihi sesame sebagai ungkapan kasih kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini