“Cara Menjadi Putra-Putri Allah”; Renungan, Sabtu 18 Mei 2019

0
2190

Hari biasa Pekan IV Paskah (P)

Kis. 13:44-52; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 14:7-14.

Kepercayaan terhadap seseorang identik dengan sebuah pujian. Di media sosial, orang sering diperhadapkan pada berita-berita yang tidak benar (hoax). Dalam kehidupan sehari-hari, orang juga menemukan bahwa teman, sahabat atau orang yang dekat dengannya bisa ‘berkhianat’. Hal-hal demikian membuat tingkat kepercayaan seseorang terhadap realitas di luar dirinya dipertaruhkan. Berhadapan dengan itu, orang mungkin akan bertanya: “Siapakah atau manakah yang bisa dipercaya?”

Bacaan Injil hari ini memberikan penjelasan kepada kita tentang siapakah Yesus itu. Penginjil Yohanes mengajak kita untuk percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ketika Filipus meminta kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepadanya, Yesus barkata bahwa Ia di dalam Bapa dan Bapa dalam Dia. Mujizat-mujizat yang dibuat Yesus adalah pekerjaan-pekerjaan yang dibuat oleh Allah, sehingga Ia menuntut kepercayaan dari Filipus bahwa Dialah Anak Allah.

Selain itu, Yesus juga berkata: “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan…” Dengan itu, Yesus menunjukkan bahwa percaya kepada-Nya bukan saja sikap penyerahan diri yang total kepada-Nya. Percaya kepada Yesus juga menuntut sikap untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya, yaitu tindakan-tindakan yang berlandaskan cinta kasih.

Dengan demikian, kita pun layak disebut sebagai anak-anak Allah. Sama seperti Yesus satu dengan Bapa, kita pun menjadi satu dengan Yesus, sehingga apa yang kita minta dalam nama Yesus, Ia akan medengarkannya. Ia sendiri berkata: “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya”.

Rasul Paulus dan Barnabas dalam bacaan pertama menunjukkan kepada kita bagaimana sikap yang seharusnya dibuat sebagai orang yang percaya pada Yesus. Mereka berupaya untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain yang belum mengenal Allah, meskipun mereka pada akhirnya mesti mengalami penganiayaan. Hal ini menunjukkan bahwa menjadi putra-puteri Allah itu bersifat universal. Siapa saja bisa menjadi putera-puteri Allah. Asalkan kita percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan hal-hal yang menguji kepercayaan kita. Menyangkali berita-berita yang beredar di media sosial atau tidak percaya pada sahabat yang mengkhianati kita, adalah hal yang wajar. Namun, sikap percaya kepada Yesus mesti ditanamkan dalam pribadi kita masing-masing, sehingga kita layak disebut sebagai putera-puteri Allah.

(Fr. Frans Labia)

Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku” (Yoh. 14:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku agar senantiasa percaya kepadamu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini