Hari Biasa Pekan IV Paskah (P).
Kis. 13:26-33; Mzm. 2:6-7,8-9,10-11; Yoh. 14:1-6.
Peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan memberi jaminan kepada setiap manusia bahwa Ia telah menang atas kematian dan dosa. Bahkan lebih dari itu, Ia menyerahkan diri-Nya supaya manusia tetap hidup dan menjadi pribadi yang serupa dengan Allah. Dalam sukacita Paskah ini, Allah sendiri hendak mengajak kita semua supaya terus menghidupi karya pelayanan kita terhadap sesama.
Berdasarkan tugas kegembalaan Gereja, menjadi Imam, Nabi dan Raja, kita semua dilatih untuk menjadi seorang pemimpin secara optimal memegang prinsip mendampingi dan mengatur. Makna itu sesungguhnya memberi petunjuk bahwa dengan menjadi Imam, kita belajar untuk menjadi pengajar atau juga menguduskan. Dengan menjadi Nabi, kita belajar bagaimana memaknai tugas penggembalaan domba-domba. Tugas seorang gembala, yakni menjadi penuntun atau pengajak supaya jangan ada yang lari dari segerombolan kawanan. Dengan menjadi Raja, kita belajar bagaimana memimpin. Entah menuntun dirinya entah juga memimpin dan menuntun banyak orang.
Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita semua diajak untuk selalu optimis dalam pengenalan akan Allah. Selain itu juga, kita semua diajak untuk berani menjadi saksi atas apa yang kita kenal dan yakini. “Janganlah gelisah hatimu: percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku”.
Rasul Paulus pun menceritakan peristiwa yang terjadi di Yerusalem. Ketika orang-orang Yerusalem tidak mengakui Yesus sebagai guru dan Tuhan. Oleh karena itu, mereka menjatuhkan hukuman mati atas Dia. Peristiwa itu dipuncaki dengan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dan kebangkitan manusia atas dosa. “Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini”.
Harapan yang dijanjikan dalam peristiwa kebangkitan Yesus secara istimewa diungkapkan dalam Injil. Hal ini dengan maksud berupaya mencari kebahagiaan dan kebenaran. Yesus tampil sebagai jalan kebenaran dan hidup. Maka, janganlah gelisah hatimu oleh bermacam-macam hambatan dan desakan berbagai macam pihak. Yakinlah bahwa Allah senantiasa beserta kita dengan bertekun dalam doa, berkarya dalam Gereja, dan beramal bagi sesama. Maka dari itu kebahagiaan, kebenaran dan kehidupan akan kita miliki.
(Fr. Michael Hart Terok)
“Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”(Yoh. 14:5).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, berilah aku semangat-Mu dan kobarkan di dalamnya api cinta-Mu. Amin.











