“Kerendahan Hati itu Sulit”: Renungan, Kamis 16 Mei 2019

0
2011

Hari Biasa Pekan IV Paskah (P)

Kis. 13: 13-25, Mzm. 89: 2-3,21-22,25,27, Yoh. 13: 16-20.

Menjadi murid-murid Kristus berarti ikut ambil bagian dalam tugas perutusan. Salah satu tugas perutusan itu yakni pelayanan. Terkadang, kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa mengikuti jalan Tuhan pasti akan mengalami kesuksesan dan dijauhkan dari masalah serta kesulitan hidup. Dalam mengikuti Yesus, memang kita tidak berharap mendapat duka-derita dengan mengikuti jalan Tuhan. Kita berharap perjalanan hidup kita indah dan sesuai harapan. Namun dalam kenyataannya, banyak kali hidup kita justru sulit. Apalagi, bila sungguh mau hidup dalam kebenaran Tuhan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus kembali mengingatkan kita mengenai sikap seorang pengikut Kristus yakni rendah hati. “Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya”. Menjadi pelayan berarti bersedia melayani dengan sepenuh hati. Itu berarti membutuhkan pengorbanan diri secara total, dan boleh terjadi apabila kita memiliki sikap rendah hati. Mengapa harus rendah hati? Sebab, dari diri seorang utusan yang rendah hati akan mengalir kata-kata dan perbuatannya yang dikehendaki oleh Tuhan. Seorang yang rendah hati akan dibimbing untuk menjadi bijaksana dalam berkata-kata dan bertindak.

Yesus tidak menjanjikan kepada kita sebuah kehidupan yang nyaman. Namun, Dia menjanjikan penyertaan-Nya yang tak berkesudahan. Sebab, menjadi murid Kristus diutus bukanlah untuk memperoleh kesuksesan duniawi melainkan untuk memperoleh kemuliaan ilahi. Sebagai orang beriman, kita sering juga disebut sebagai hamba-hamba Tuhan. Kita dipanggil untuk senantiasa membahagiakan Tuhan serta melaksanakan perintah atau sabda-Nya. Kita dipanggil untuk senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan berrtindak kita setiap hari.

Semoga kita dalam segala tugas perutusan berusaha menjadi murid yang rendah hati dan berani mewartakan Dia yang adalah benar. Hanya dengan sikap dasar tersebut, kita akan mengalami betapa rahmat-Nya mengalir tanpa henti. Maka, kita dapat diteguhkan dan dikuatkan dalam perjalanan di dunia ini.

 (Fr. Agus Udenge)

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit” (Mzm. 89:2-3).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukan aku, agar aku dapat hidup sesuai dengan teladan-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini