“Agape vs Filia”: Renungan, Minggu 5 Mei 2019

0
2917

Hari Minggu Paskah III (P)

Kis. 5:27b-32,40b-41; Mzm. 30:2,4,5,6,11,12a,13b; Why. 5:11-14; Yoh. 21:1-19 (Yoh. 21:1-14)

Mungkin kita dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi kita tidak mungkin dapat mengasihi tanpa memberi. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, khususnya bacaan Injil mengajak kita untuk mengasihi seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus, apakah ia mengasihi-Nya. Menarik untuk kita perhatikan. Tiga kali Yesus bertanya pada Petrus “apakah engkau mengasihi Aku?”, dan tiga kali pula Petrus menjawab dengan jawaban yang sama. Dalam percakapan itu, ternyata kata kasih yang dipakai oleh Yesus beda dengan kata kasih yang dipakai oleh Petrus.

Kata kasih yang dipakai Yesus dalam pertanyaan-Nya ialah agape (Yunani: Agapao), dan kata kasih yang dipakai Petrus pada jawaban yang diberikannya adalah filia (Yunani: Fileo). Agape adalah kasih yang tak bersyarat atau kasih yang ilahi. Filia adalah kasih yang bersyarat atau mengasihi karena ada sesuatu, misalnya karena akrab atau karena ada hubungan kekeluargaan. Kasih agape tentu lebih tinggi dari pada kasih filia.

Tiga kali Yesus bertanya, itu berarti Yesus sungguh mengharapkan Petrus mampu mengasihi-Nya dengan kasih agape. Tetapi, dengan jujur Petrus menjawab bahwa ia belum mampu mengasihi Yesus dengan kasih agape. Ia hanya mampu mengasihi Yesus dengan kasih filia. Mengasihi karena ada hubungan guru dan murid. Ketika guru tidak mampu memberikan perlindungan pada muridnya, maka murid itu akan lari meninggalkan gurunya. Tiga kali Petrus menyangkal Yesus, gurunya, saat Ia dianiaya. Sungguh luar biasa, meskipun Petrus tidak mampu mengasihi Yesus dengan kasih agape, Yesus tetap mempercayakan rahmat-Nya, Yesus tetap mempercayakan tugas pengembalaan bagi domba-domba-Nya.

Saudara, Petrus yang menyadari segala kelemahannya mengakui dengan jujur bahwa ia belum mampu mengasihi Yesus dengan sempurna. Tetapi berkat pertolongan rahmat Tuhan Yesus yang telah bangkit, ia mampu mengatasi kelemahannya sehingga ia berani memberi kesaksian di muka umum kendati mendapat ancaman akan dibunuh. Kasihnya yang besar pada Yesus membuat ia mampu bertahan dan bersukacita dalam penderitaan.

Penampakkan Yesus yang telah bangkit menjadi jaminan bagi kita akan kebangkitan dan sukacita yang akan kita peroleh, asal kita tetap setia mengasihi Dia. Mari, kita tetap setia mengasihi Yesus kendati kita mengalami banyak penderitaan, karena penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan bagi mereka yang tetap setia.

(Fr. Jerry Torebelaz)

“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:17).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku selalu setia mengasihi Engkau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini