“Saksi Kristus yang Setia”: Renungan, Kamis, 2 Mei 2019

0
3390

Pw S. Atanasius, UskPujG (P)

Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2, 9, 17-18, 19-20; Yoh. 3:31-36

Ada sebuah dialog antara anak dan kakeknya. Anak  bertanya: “Kakek, apakah seorang pastor itu baik?” Sang kakek menjawab: “Tentu saja seorang pastor itu baik, akan tetapi itu pekerjaan yang susah!” Lalu anak itu bertanya lagi: “Lalu kenapa kakek tidak menjadi pastor?” Mendengar pertanyaan tersebut, sang kakek sempat terkejut, dan sambil agak kebingungan ia pun menjawab: “Hmm, tentu saja… karena kakek tidak mau menjadi orang susah!”

Kisah tersebut mau memberi pesan bahwa tidak semua orang mau menjadi saksi Kristus. Mungkin juga lebih tepatnya ialah tidak semua orang dapat menjadi saksi Kristus. Sebab menjadi saksi Kristus, manusia perlu memiliki semangat pengorbanan dan kesetiaan untuk mengikuti teladan Kristus. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Petrus dan rasul-rasul dalam bacaan pertama. Di hadapan Mahkamah Agama, mereka tetap setia dan menunjukkan tekad yang kuat untuk menjadi saksi Kristus. Demikianlah mereka berkata: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Perkataan tersebut telah menunjukkan betapa besarnya iman mereka kepada Allah.

Bacaan Injil hari ini juga mengisahkan kesaksian tersebut dalam diri Yohanes Pembaptis. Kesetiaan Yohanes Pembaptis menjadi saksi Kristus ditunjukkan melalui kata dan tindakannya. Mengintegrasikan perkataan dan tindakan dalam dirinya seendiri sebagai saksi Kristus. Sebab menjadi  saksi Kristus yang setia harus menjadi model bagi semua orang. Kehadiran diri menjadi representasi dari kehadiran Kerajaan Allah.

Iman itulah yang ditunjukkan pula oleh St. Athanasius yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini. Sebagai orang kudus dalam Gereja Katolik, St. Athanasius merupakan seorang pembela ajaran Gereja tentang Tritunggal Mahakudus dan tentang misteri inkarnasi. Demikianlah yang ditunjukkan oleh St. Athanasius selama hidupnya. Semangat itu pula yang menjadi wujud kesetiaannya sebagai saksi Kristus.

Sekarang kita berada dalam dunia milenial. Dunia yang dipenuhi dengan sarana teknologi. Banyak tantangan yang kita hadapi sebagai saksi Kristus seiring dengan perkembangan zaman. Walaupun demikian, sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menggunakan teknologi demikian sebagai sarana pewartaan. Kita menggunakan teknologi untuk kemuliaan Tuhan.

 (Fr. Valentino Wullur)

“Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Ef. 3:18).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah aku agar aku tidak pernah menyerah untuk menjadi saksi-Mu yang setia. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini