“Apa Buktinya?”: Renungan, Kamis 25 April 2019

0
2339

Hari Kamis dalam Oktaf Paskah (P)

Kis. 3:11-26; Mzm. 8:2a,5,6-7,8-9; Luk. 24:35-48

Sebagai manusia kita sering ragu-ragu atau kurang percaya terhadap sesuatu tanpa adanya suatu bukti. Inilah sifat manusia yang selalu bertanya-tanya tentang sesuatu sehingga tidak mau menerima dengan begitu saja tanpa adanya suatu pembuktian yang jelas. Inilah yang dialami oleh para murid Yesus ketika Yesus menampakkan diri di tengah-tengah mereka setelah kebangkitan-Nya. Mereka menyangka bahwa Ia adalah hantu sehingga muncul keragu-raguan di dalam diri mereka. Karena keragu-raguan para murid Yesus, Ia pun memberikan bukti dengan menyuruh mereka untuk menyentuh-Nya. Namun, karena mereka masih belum percaya maka Yesus pun meminta ikan goreng dan memakannya sebagai suatu bukti bahwa Ia benar-benar bangkit.

Dalam kehidupan, kita pun seperti para murid Yesus yang ragu-ragu atau kurang percaya. Suatu keragu-raguan atau kurang percaya mengakibatkan kita kurang beriman atau belum beriman secara penuh. Terkadang kita sering mempertanyakan tentang iman kita akan Yesus. Hal ini tidak terlepas dari kita sebagai makhluk rasional yang selalu mencari tahu dan mencari bukti atas iman yang kita yakini. Hal tersebut juga dapat membawa kita pada suatu keragu-raguan akan iman kita sendiri.

Mengenai hal tersebut, Yesus sudah memberikan bukti dan jawaban-Nya. Kebangkitan dan penampakan-Nya kepada para murid-Nya menjadi suatu bukti dan jawaban kepada kita bahwa Yesus yang kita imani merupakan Yesus yang sungguh bangkit dari alam maut. Artinya, bahwa kebangkitan Yesus merupakan inti pokok keberimanan kita, karena apa yang dikatakan para nabi dan dikatakan Yesus sendiri itu digenapi lewat kebangkitan-Nya sebagai suatu bukti sehingga kita dapat percaya kepada-Nya dan Sabda-Nya. Maka kebangkitan-Nya merupakan suatu bukti yang menjawab segala keraguan akan keberimanan kita kepada-Nya.

Melalui kebangkitan-Nya pula Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi bersaksi dan memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa yang telah dilakukan oleh Yesus melalui sengsara dan kebangkitan-Nya. Hal inilah yang telah dilakukan oleh rasul Petrus sehingga ia dikerumuni oleh orang banyak di Serambi Salomo. Dalam hal ini kita juga dipanggil untuk bersaksi baik dengan kata maupun tindakan kita sebagai bukti iman kita kepada Tuhan.

(Fr. Eky Lampeuro)

“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga” (Luk. 24:35-48).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk membuktikan imanku kepada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini