“Wanita, Saksi Pertama Kebangkitan Yesus”: Renungan, Selasa 23 April 2019

0
7582

Hari Selasa dalam Oktaf Paskah (P)

Kis.2:36-41; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; Yoh.20:11-18

Berbicara tentang wanita sesungguhnya merupakan topik yang cukup menarik untuk dibahas. Setiap orang tentu mempunyai pengertian tentang apa itu wanita. Membahas tentang wanita mengingatkan saya pada sebuah artikel di internet yang pernah saya baca. Dalam artikel tersebut, Paus Fransiskus memberikan sebuah katekese bertepatan dengan tahun iman (tahun 2013).

Paus Fransiskus dalam katekesenya di lapangan Basilika Santo Petrus, mengatakan bahwa para perempuanlah yang menjadi saksi pertama dari kebangkitan Kristus. Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa para wanita didorong oleh cinta dan tahu bagaimana menyambut pernyataan ini dengan iman. Mereka percaya dan dengan segera mereka menyebarkan kabar tersebut. Mereka tidak menyimpannya untuk diri mereka sendiri, tetapi dengan bergegas menyampaikannya kepada yang lain, yakni para murid Yesus.

Menarik bahwa, katekese Paus tersebut kembali mengingatkan dan mengajak kita untuk berani bersaksi tentang kebenaran. Dalam bacaan-bacaan hari ini, secara khusus bacaan Injil, peran penting kaum wanita tersebut diwakili oleh Maria Magdalena. Maria Magdalena menjadi saksi sekaligus pembawa kabar gembira yang hendak menyatakan bahwa Kristus benar-benar sudah bangkit. Kabar gembira tersebut kemudian diceritakan oleh Maria Magdalena kepada murid-murid yang lain dengan berkata: “Aku telah melihat Tuhan!”.

Kabar Sukacita tersebut lantas mendapat berkatnya yang melimpah ketika Santo Petrus dalam khotbahnya yang pertama dengan dibantu oleh daya Roh Kudus (Kis. 2:36-41) menegaskan kepada orang Yahudi dan semua yang tinggal di Yerusalem bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. Orang-orang yang menerima perkataan Petrus ini kemudian memberi diri untuk dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Melihat realita yang terjadi di zaman sekarang, kaum wanita seharusnya menjadi saksi yang utama tentang kebenaran sebagaimana Maria Magdalena menjadi saksi dari kebangkitan Kristus. Situasi atau kondisi sekarang, tentu berbeda di zaman Yesus, dimana kaum wanita bahkan anak-anak, menurut hukum Yahudi waktu itu, tidak bisa memberikan kesaksian tentang segala sesuatu apalagi menyangkut iman. Kaum wanita di zaman sekarang sesungguhnya dituntut untuk berani menjadi saksi tentang kebenaran. Sebab dengan didorong oleh cinta (hati) yang begitu kuat, mereka sungguh mampu untuk berani bersaksi tentang kebenaran.

            (Fr. Devri Maturbongs)

“Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh. 20:18).    

Marilah berdoa:

Ya Allah, kuatkanlah kami dalam mewartakan kebenaran. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini