“Pandanglah Salib”: Renungan, Jumat 19 April 2019

0
2407

Hari Jumat Agung (M)

Yes. 52:13-53:12; Mzm. 31:2.6.12-13.15-16.17.25; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42

Perayaan Jumat Agung menampilkan pribadi Yesus yang luar biasa. Dialah Allah Maha kasih. Kasih-Nya tidak terbatas pada ajaran-ajaran-Nya, tapi berpuncak pada pemberian diri-Nya untuk semua manusia. “Tak ada kasih yang paling besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya” adalah ajaran Yesus tentang melakukan kasih. Ini bukan sebuah ajaran semata. Korban-Nya di salib menjadi penggenapan sabda yang Ia sampaikan.

Atas dasar itu, hari ini kita semua diajak untuk memandang Salib Kristus. Di sana tampak sosok luar biasa itu. Dia adalah pribadi yang hidup untuk orang lain, menolong memberi makan dan menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, harus dihukum mati akibat fitnah dan saksi dusta. Dia yang mengampuni dosa orang lain, menjadi teman bagi setiap orang terlebih khusus yang kecil dan menderita, harus mengalami penderitaan yang dahsyat. Dia adalah Mesias yang datang ke dunia, Dia tidak berdosa, berlaku adil dan jujur, orang sempurna, namun ditolak dan dihukum mati. Semua itu Dia jalani dengan penuh kasih. Di atas kayu salib, nampak Allah yang Maha Pengampun. Dia yang ditindas, bahkan dihukum mati tapi tidak membenci mereka yang menindas Dia. Malahan Dia mendoakan keselamatan mereka kepada Bapa.

Pandanglah Salib Kristus dan renungkanlah. Sudahkah kita menjadi pelaku kasih? Sudahkah kita menjadi pribadi yang pemaaf? Ataukah kita masih sama seperti orang-orang yang menyalibkan Yesus? Pandanglah salib dan jadilah pelaku kasih seperti Yesus. Dia adalah sahabat kita yang sejati. Sebab sahabat sejati adalah dia yang mau berkorban untuk sahabatnya. Ketika hidup kita dipenuhi keinginan untuk menang sendiri, penuh keegoisan, tidak pusing dengan penderitaan orang lain, maka pandanglah salib Kristus. Salib yang melambangkan Dia yang berkorban untuk sahabat-Nya, salib yang menggambarkan kasih sejati untuk semua orang.

Memandang salib Kristus memberikan kita sebuah prespektif menjadi sahabat yang sejati. Pandanglah salib Kristus dan jadilah pribadi yang pemaaf. Kristus yang menderita tanpa berbuat salah seharusnya mengutuk mereka yang menganiaya diri-Nya. Hal itu tidak Ia buat. Sebaliknya Ia mendoakan dan memohonkan pengampunan dosa kepada mereka.

Ketika kita menjadi pribadi yang marah akibat dihina, difitnah, bahkan menderita, pandanglah salib Kristus. Salib Kristus akan memberikan peneguhan kepada kita. Memaafkan adalah cara terbaik kita untuk menghindar dari dosa-dosa yang akan kita alami. Memaafkan itu sulit, tapi akan jauh lebih sulit ketika kita hidup dalam perbudakan dosa. Maka pandanglah salib Kristus. Salib Kristus mendatangkan rahmat bagi kita.

  (Fr. Eto Laian)

 “Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa Kepada-Ku?” (Yoh. 18:11).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga karena kurban-Mu, kami dibebaskan dari dosa-dosa kami. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini