“Kau Saudaraku”: Renungan, Selasa 2 April 2019

0
1943

Hari biasa Pekan IV Prapaskah (U)

Yeh. 47:1-9,2; Mzm. 46:2-3, 5-6, 8-9; Yoh. 5:1-3a,5-16

Menjadi orang yang tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan bahkan dilupakan, merupakan sebuah kelaparan terbesar, bahkan melebihi seorang yang miskin yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan”. Inilah perkataan  Sta. Bunda Teresa dari Kalkuta. Seorang yang hatinya penuh dengan kebaikan bagi saudara-saudara yang ada di sekitarnya.

Ungkapan dari Mother Teresa juga digambarkan oleh penginjil Yohanes. Ada seorang yang menderita sakit selama tiga puluh delapan tahun dan sedang terbaring di serambi. Dalam masa-masa penderitaannya, dia menantikan datangnya seseorang untuk membantu dia agar bisa turun di dalam kolam yang airnya sedang mulai goncang. Tetapi tidak ada yang datang untuk membantunya. Bahkan ketika dia mulai turun, ada orang lain yang terlebih dahulu mendahuluinya. Padahal, untuk sembuh orang harus turun lebih dahulu ke dalam kolam.

Keadaan yang dialami oleh si sakit bukanlah hal yang gampang dan mudah untuk dijalani. Dia merasa tidak diperhatikan, tidak dincintai, bahkan dilupakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam situasi yang demikian Kristus hadir dan memperhatikan dia. Kristus mau membantu dia. Tetapi sebelum Kristus bertindak, yang dibutuhkan oleh Kristus pertama-tama adalah keinginan dia untuk mau dibantu. Yesus bertanya, “Maukah engkau sembuh?”. Ya atau tidak, itulah jawaban yang dibutuhkan oleh Kristus. Jawaban dan tindakan aktif yang keluar secara pribadi dari dalam hati si sakit. Begitu juga dalam kehidupan kita setiap hari. Ketika kita berada dalam situasi yang demikian, ketika orang lain tidak lagi memperhatikan kita, masih ada Kristus yang dengan cinta-Nya mau membantu kita. Tinggallah bagaimana kita menjawab pertanyaan dari Kristus sendiri.

Saudara terkasih, masa prapaskah  merupakan waktu bagi kita untuk melakukan aksi nyata kita terhadap saudara-saudara kita yang kurang mendapat perhatian atau dilupakan. Sama seperti Kristus datang, hadir dan mau membantu mereka yang dilupakan, yang tidak dicintai, tidak perhatikan dan bahkan tidak diinginkan, kita pun dipanggil seperti Yesus, untuk hadir dengan saudara-saudara kita yang tidak diperhatikan. Kehadiran kita merupakan kebahagiaan bagi mereka yang hidup dalam keterasingan dan kesendirian. Kita diajak untuk menata persekutuan dengan saudara-saudara kita, serta melayani mereka sebagai saudara, sebab dalam diri mereka Kristus hadir.

(Fr. Aldo Oping)

Sehingga ke mana saja sungai itu mengalir segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup” (Yeh. 47:9a).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku agar aku bisa melayani sesamaku sebagai saudara. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini