“Kesediaan Untuk Mengampuni”: Renungan, Selasa 26 Maret 2019

0
2935

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U)

Dan. 3:25, 34-43; Mzm. 25:4bc-5ac, 6-7bc, 8-9; Mat. 18:21-35.

Mengampuni mudah untuk diungkapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Mengampuni berarti memberikan maaf kepada mereka yang telah bersalah. Namun kadang sikap mengampuni menjadi sebuah persoalan sentral sebab orang memberikan ampun berdasarkan kategori.

Besar kecilnya kesalahan, berhubungan darah atau tidak, dan berbagai macam kategori yang dilihatnya. Bahkan, terkadang suatu kesalahan yang besar menuntut adanya sebuah pembalasan dendam, barulah orang mau merasa senang.

Lewat bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita sebagai pengikut-Nya agar bersedia untuk mengampuni sesama kita. Sikap mengampuni bukan hanya sebatas tujuh kali sebagaimana yang ditanyakan oleh Petrus kepada Yesus. Tetapi lebih dari itu yakni mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali.

Kelipatan tujuh kali yang diajarkan Yesus untuk mengampuni merupakan suatu angka yang sempurna yang tak terbatas atau tak terhingga. Yesus mau mengajarkan kepada kita bahwa pengampunan yang hendak kita lakukan haruslah tanpa batas.

Seberapa besar atau pun kecil kesalahan yang dibuat oleh sesama kita, ada sikap kesediaan untuk mengampuni secara terus menerus, tak terbatas, dan tanpa syarat. Sehingga perumpamaan yang diumpamakan Yesus mau menunjukkan bahwa sikap mengampuni bukan hanya sekali, dua kali, tiga kali dan seterusnya.

Sikap mengampuni itu tiada batas. Artinya, menjadi pengikut Yesus tidak memperhitungkan berapa banyak kita mengampuni, tetapi mengampuni tanpa batas seperti yang ditunjukkan oleh Yesus sampai wafat-Nya di atas kayu salib.

Belajar dari perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk senantiasa membuka hati kita kepada sesama dan berupaya untuk memaafkan sesama kita yang bersalah kepada kita. Yakinlah bahwa usaha kita untuk memaafkan tidak pernah akan sia-sia.

Apakah kita memiliki kesediaan untuk mengampuni? Memaafkan dengan kata-kata itu kadang mudah untuk dilaksanakan tetapi sulit untuk dilakukan. Namun kalau kita sungguh bersedia mengampuni, Tuhan akan turut memampukan kita.

(Fr. Petrus Fransiskus Kowarin)

“Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22)

 

Marilah Berdoa:

Tuhan, bantulah kami untuk mampu mengampuni sesama. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini