“Ditolak Karena Kebenaran”: Renungan, Jumat 22 Maret 2019

0
2604

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)

Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-4.

Pernahkah Anda merasa ditolak? Banyaklah latar belakang alasan penolakan yang dapat kita alami. Tetapi pernahkah Anda ditolak justru karena membawa kebenaran? Pengalaman ditolak tentulah tidak mengenakan, karena ada pelbagai perasaan yang muncul, entah sedih, kecewa, marah dsb. Apalagi jika yang menolak itu orang yang sangat dekat dengan Anda: sahabat-sahabat karib bahkan keluarga.

Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang pengalaman ditolak yang dialami oleh Yesus dan Yusuf. Mereka ditolak bukan karena suatu kesalahan, tetapi justru karena kebenaran. Yusuf ditolak karena memiliki kedekatan personal dengan Yakub. Ia dikucilkan juga karenatampak dalam mimpinya, ia akan menjadi seorang pemimpin dari saudara-saudaranya. Hal ini menyebabkan saudara-saudaranya iri hati bahkan ingin membunuhnya. Mereka memang akhirnya menjualnya seharga 20 syikal perak kepada orang Ismael.

Demikian pun hal yang kurang lebih sama dialami oleh Yesus, seperti dikisahkan dalam Injil yang berbicara tentang perumpamaan yang mengacu kepada Israel sebagai kebun anggur. Allah adalah pemilik kebun anggur dan Ia mempercayakan kebunnya diolah oleh para pemimpin agama dan politik. Kemudian banyak hamba (para nabi) dikirim ke kebun anggur, tetapi semua mengalami nasib buruk. Namun sang pemilik  (Allah) mengharapkan bahwa paling tidak anak-Nya (Yesus) akan diterima dengan hormat. Nyatanya, Ia mendapat perlakuan yang lebih buruk, sampai dibunuh di luar kebun anggur.

Hal ini mau mengatakan bahwa kasih Allah untuk umat manusia itu amat besar. Ia menghendaki supaya manusia memperoleh keselamatan, sehingga ia mengutus para nabi hingga Putra-Nya untuk datang ke dunia. Namun ada banyak manusia yang tidak percaya akan kasih-Nya dan menanggapinya dalam bentuk penolakan. Penolakan akan Yesus adalah penolakan akan keselamatan. Sikap penolakan inilah yang membuat mereka jauh dari Allah, sehingga keselamatan pun jauh dari mereka.

Lantas kalau kita ditolak, apa yang mesti dibuat? Kalau kita yakin dengan kebenaran, kita tidak perlu takut untuk ditinggalkan. Pengalaman ditolak adalah pengalaman yang mengajak kita untuk bertanya: di manakah aku berdiri? Apakah aku sungguh berdiri pada kebenaran sejati atau pada apa kata orang tentang aku?

Semoga masa Prapaskah ini menjadi masa di mana kita menyadari diri dan semakin meyakini nilai-nilai kebenaran yang kita perjuangkan.

(Fr. Ekaristho G. Silap)

“Ia akan membinasakan orang-orang jahat” (Mat. 21:41).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah aku kendati ditolak demi kebenaran. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini