“Kaya dan Miskin”: Renungan, Kamis 21 Maret 2019

0
3325

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

Yer 17:1-5; Mzm 1:1-2.3.4.6; Luk. 11: 20-24.

Dalam realitas hidup setiap hari, selalu kita menjumpai orang kaya dan orang miskin. Kategori kaya dan miskin bagi manusia ada hal yang sangat jauh berbeda. Yang kaya dapat memperoleh apa yang diinginkan dengan mudah, tetapi yang miskin butuh kerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Yang kaya sangat mudah mendapatkan makan, tetapi yang miskin sangat sulit. Pandangan manusia terhadap orang kaya yakni setiap orang kaya mempunyai kedudukannya sendiri, mempunyai tempat terhormat, disegani oleh banyak orang dan lain sebagainya. Tetapi orang miskin selalu berada pada posisi yang paling rendah. Malahan, banyak orang kaya mengabaikan orang miskin.

Bacaan Injil pun mengisahkan orang kaya dan Lazarus yang miskin. Orang kaya yang dengan kemewahannya selalu bersukaria, tetapi Lazarus yang miskin menderita di bawahnya. Lazarus memakan apa yang jatuh dari meja orang kaya. Apakah hal itu wajar? Adalah sangat tidak baik jika sesama manusia diperlakukan demikian. Manusia adalah citra Allah sebab manusia berasal dari Allah. Baik kaya maupun miskin semuanya adalah milik Allah. Tetapi yang terjadi bahwa yang kaya sangat sulit untuk berbagi kepada yang miskin.

Meskipun miskin di hadapan manusia, ingatlah bahwa di hadapan Allah merekalah yang layak dalam Kerajaan Surga. Setiap orang yang hidup di dunia dengan penuh penderitaan, kelak ia bersukacita dalam kebahagiaan di surga. Begitu sebaliknya, setiap orang yang hidupnya di dunia penuh dengan kesenangan duniawi, kelak ia akan mengalami penderitaan di mana ia akan berada dalam nyala api. Orang kaya dan orang miskin sangat jauh berbeda. Begitu pula antara Orang kaya dan Lazarus pada akhirnya terbentang jurang yang tak terseberangi.

Selagi masih hidup di dunia ini, kita senantiasa masih mempunyai kesempatan untuk bertobat. Kita mau berbagi dengan orang lain, senantiasa menolong orang yang miskin, lemah dan papa. Kristus telah menunjukkan kepada kita untuk hidup dengan memberikan diri seutuhnya untuk Allah dengan menolong orang lain yang sedang membutuhkan uluran tangan kita.

 (Fr. Marsiano Kaunang)

“Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para Nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk. 16:31).

Marilah berdoa.

Ya Tuhan, mampukanlah kami agar dapat menjadi orang yang mau berbagi kepada mereka yang berkekurangan. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini