“Bertobatlah”: Renungan, Senin 18 Maret 2019

0
2252

Hari biasa Pekan II Prapaskah (U).

Dan. 9:4b-10; Mzm. 79:8,9,11,13; Luk. 6:36-38.

Dosa merupakan perbuatan yang membuat putusnya relasi antara manusia dengan Allah. Konsekuensinya, Allah tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya tujuan hidup manusia, melainkan manusia untuk dirinya sendiri. Bertolak dari hal sedemikian, maka  Daniel dalam nubuatnya, menunjukkan bagaimana membangun kembali relasi yang  telah putus tersebut: “Tetapi pada Tuhan, Allah kami, ada kerahiman dan ampun, walaupun kami telah merontak kepada-Mu.” Ungkapan ini hendak menunjukkan adanya keyakinan iman, bahwa di dalam Allah ada pengampunan dan keselamatan. Allah selalu murah hati dan suka mengampuni.

Hal senada juga lebih dipertegas di dalam Injil hari ini. Yesus menjelaskan sifat Allah yang murah hati, dengan berkata: “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Di samping itu, Yesus juga memberikan pengajaran moral, bagaimana membangun relasi yang baik dan benar dengan Allah dan sesama.

Pengajaran yang di dalamnya mengandung penegasan Yesus soal “hal menghakimi”. Menjadi jelas bahwa segala yang dilakukan baik itu hal baik maupun hal buruk semuanya akan kembali kepada diri sendiri. “Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”.

Yesus mengatakan ini tentunya bukan tanpa alasan, melainkan didasari atas alasan yang kuat. Pada masa itu, terdapat dua golongan atau kelompok orang, yakni kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah. Kelompok yang kuat cenderung melakukan tindakan yang tidak manusiawi terhadap kelompok yang lemah. Itu berarti, ada penindasan dalam kehidupan manusia.

Pengajaran Yesus secara eksplisit, sesungguhnya memberikan semangat kepada kelompok kecil ini, untuk tidak putus asa melainkan tetap hidup dalam pengharapan iman akan Allah. Sementara, kepada kelompok yang kuat, Yesus mengajak supaya hendaknya bertobat sebelum murka Allah datang.

Dunia dewasa ini, begitu banyak orang yang jauh dari Allah. Lebih parahnya lagi, Allah tidak lagi dipandang sebagai prioritas dalam hidup manusia. Seringkali, prioritas dalam hidup manusia adalah kepuasan atau kenikmatan duniawi yang sifatnya sesaat. Manusia akan terus-menerus mencari kenikmatan duniawi walapun, orang lain menjadi mangsanya  untuk memenuhi hasrat atau nafsu.

Tidak menutup kemungkinan hal-hal tersebut ada di di dalam diri kita, komunitas kita, kelompok kita, negara kita, dll. Satu-satunya jalan agar kita layak di hadapan Allah adalah pertobatan yang sungguh-sungguh.

(Fr. Aloisius Wazi)

“Sebab ukuran yang akan kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk. 6:38).

Marilah berdoa:

Ya Allah, kiranya kami mampu hidup seturut kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini