“Janji Keselamatan”: Renungan, Minggu 17 Maret 2019

0
5141

Hari Minggu Prapaskah II (U)

Kej. 15:5-12,17-18; Mzm. 27:1,7-8,9abc,13-14; Flp. 3:17-4:1 (Flp. 3:20-4:1); Luk. 9:28b-36.

 “Berjanji itu mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dilakukan.”  Itulah bentuk ungkapan kekecewaan seseorang manakala janji itu tak kunjung ditepati.  Janji itu bukan hanya seindah kata-kata yang kita ucapkan. Yang lebih penting adalah pelaksanaan dari janji yang telah disepakati bersama.  Janji itu menjadi manis dan indah di saat terlaksana dan terwujud sesuai dengan  yang diharapkan.  Oleh karena itu dalam pelaksanaan diperlukan kesetiaan pada janji yang telah disepakati bersama.

Kesetiaan dalam melaksanakan perjanjian itu terlihat dari perjanjian antara Allah dan Abraham. Allah menjanjikan kepada Abraham keturunannya sebanyak bintang di langit. Kesetiaan dan kepercayaan yang total kepada Allah membuat Abraham itu dibenarkan di hadapan Allah. Oleh karena itulah, Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Abraham. Sebuah tanda perjanjian pun diikat antara Allah dengan Abraham. “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat” (Kej. 15:18).

Peristiwa yang dialami oleh Petrus, Yohanes dan Yakobus menjadi bukti terlaksananya janji keselamatan Allah bagi umat manusia.  Ketika Tuhan Yesus berdoa di atas gunung, wajah dan pakaian-Nya berubah rupa menjadi putih berkilauan. Bahkan hal itu dipertegas dengan munculnya Musa dan Elia yang menampakkan diri dalam kemuliaan. Janji keselamatan bagi umat manusia itulah yang dibicarakan oleh Musa  dan Elia dengan Tuhan Yesus. Janji keselamatan itu tidak lain yaitu pemuliaan manusia yang akan dilakukan oleh Tuhan Yesus di Yerusalem.

Oleh karena dosa, manusia hidup dalam kegelapan. Manusia semakin hari semakin jauh dari kemuliaan Tuhan. Melalui sengsara dan wafat dari Tuhan Yesus, dosa manusia itu telah terbayar lunas. Dengan begitu, hubungan manusia dengan Allah dipulihkan kembali. Manusia mendapatkan kembali kemuliaannya sebagai anak-anak Allah. Hal inilah yang diwartakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi. Tuhan Yesus akan mengubah tubuh kita yang fana ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Kemuliaan itu akan kita dapatkan asalkan kita mau percaya dan setia kepada Tuhan.

Masa Prapaskah menjadi saat yang tepat bagi kita untuk kembali kepada Allah. Janji keselamatan tetap dan terus ditawarkan untuk kita. Satu hal diminta oleh Tuhan Yesus kepada kita yaitu kesetiaan dan kepercayaan yang total. Jalan satu-satunya bagi kita untuk kembali dan mendapatkan kemuliaan yaitu pertobatan. Semoga masa pertobatan ini kita manfaatkan untuk kembali kepada Tuhan.

(Fr. Malvin Karundeng)

 “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (Luk. 9:35).

 Marilah berdoa:

Ya Tuhan, aku percaya Engkaulah satu-satunya keselamatanku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini