“Berdamai dengan Orang Lain”: Renungan, Jumat 15 Maret 2019

0
2744

Hari Biasa Pekan I Prapaskah (U)

Yes. 18:21-28; Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8; Mat. 5:20-26.

Dalam kehidupan setiap hari, kerapkali kita sering menjumpai orang – bahkan kita sendiri yang mengalami – yang suka marah, bahkan sedikit-sedikit marah. Marah seolah-olah sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Kalau belum marah, pasti ia akan merasa hidupnya belum lengkap, kosong, sesuatu belum terjadi, sehingga ia harus mencari cara atau alasan untuk ‘melengkapi’ kebiasaannya atau mengisi kekosongan hidupnya dengan marah. Ia lupa bahwa kemarahan bisa merusak hubungannya dengan orang lain dan juga merusak dirinya sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengemukakan sebuah cara apabila kita hendak mengikuti Dia. Sesungguhnya, menjadi pengikut-Nya bukan sekedar hanya mengikuti aturan-aturan yang sudah ada, melainkan harus memiliki nilai plus, salah satunya menyingkirkan kemarahan dan dendam. Kemarahan dapat membunuh karakter seseorang untuk bertumbuh dan berkembang, apalagi jika kemarahan itu dilontarkan kepada seseorang yang lemah dan tidak dapat membalas amarahmu. Begitu pula dengan dendam. Memiliki rasa dendam dapat merugikan diri kita sendiri, pun merugikan orang lain.

Sikap marah dan dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah justru menambah masalah yang baru, relasi dengan orang lain bisa semakin runyam. Dalam Injil hari ini Yesus berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke mahkamah agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang bernyala-nyala.” Di sini, Yesus hendak menegaskan bahwa orang yang selalu marah dan menyimpan dendam kepada saudaranya, akan mendapat ganjaran yang sesuai.

Masa Prapaskah adalah kesempatan emas, kesempatan yang berharga bagi kita untuk memperbaiki relasi-relasi kita dengan semua orang yang telah bersalah. Yesus, dalam bacaan Injil mengajak kita untuk berdamai dengan siapa saja, bahkan dengan mereka yang menjadi penyebab kemarahan kita, menjadi sumber rasa dendam kita. Namun pertama-tama kita harus berdamai terlebih dahulu dengan Tuhan, bukan karena ada konflik antara kita dengan Tuhan, melainkan karena kita telah berbuat salah kepada-Nya. Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita, untuk melakukan pertobatan. Maukah kita untuk bertobat?

(Fr. Martinus Nifanngelyau)

…tinggalkanlah persembahanmu di mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5:24).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku untuk bisa berdamai dengan semua orang. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini