“Keheningan dan Pertobatan”: Renungan, Rabu 6 Maret 2019

0
3251

Hari Rabu Abu (U)

Yl.2:12-18 ; Mzm 51: 3-4,5-6a,12-13,14,17 ; 2Kor.20-6:2 ; Mat. 6:1-6,16-18.

Rabu Abu adalah permulaan dari masa Pra-Paskah, pembukaan dari masa puasa dan pantang. Pada hari ini, Gereja mengajak kita umat beriman untuk memulai proses, memulai permenungan diri, dan memulai masa pertobatan. Pertobatan yang kita jalani merupakan tanda kesiapsediaan kita untuk menerima keselamatan.

Bacaan Injil hari ini menampilkan pertobatan yang dilakukan oleh orang beriman. Yesus mengajak kita untuk melaksanakan aturan dan tata tertib keagamaan kita. Inti dari ajakan Yesus adalah sikap kita untuk tidak menjadi pusat perhatian orang lain. Yesus mengecam orang-orang yang mengatas-namakan agama demi kepentingan pribadi. Orang suka pamer dengan menunjukkan kekayaan pada waktu beribadah, suka memberi sedekah sekaligus menarik perhatian, dan lain-lain.

Yesus mengkritik kebiasaan doa yang salah. Berdiri di tempat umum dan  berdoa agar dilihat oleh orang banyak. Yesus tidak menerapkan hal yang demikian. Yesus mengajarkan kepada Kita, kalau kita berdoa, masuklah kedalam kamar, berdoalah di tempat yang sunyi. Kata-kata Yesus ini dapat kita pahami pada masa kini tentang cara berdoa kita. Gereja juga menerapkan perintah Yesus ini. Kita selalu diingatkan bahwa untuk berdoa, kita butuh suasana yang tepat, yakni keheningan. Dengan keheningan, kita dapat masuk lebih jauh ke dalam diri kita, kita dapat memeriksa batin kita. Dapat dipahami bahwa doa bukanlah menjadi sebuah hiburan yang bisa membuat perasaan tenang.

Pada hari Rabu Abu ini, kita juga diingatkan untuk mulai berpuasa sebagai tanda pertobatan. Pertobatan kita pada masa kini tidak harus dengan menunjukkan sikap ekstrim yang harus menyiksa diri dan mencapai ekstase dan kepuasan batin. Berpuasa dan berpantang pada masa kini dapat kita jalani dengan cara yang lebih halus dan lebih pada semangat untuk datang kepada Yesus. Pada masa kini puasa dapat kita jalankan dengan mengurangi keinginan berlebihan dan membuka diri terhadap sesama yang membutuhkan. Kita diajak untuk berusaha masuk lebih dalam diri kita dan menunjukkan sikap peduli terhadap sesama kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi murid Yesus yang selalu berbuat yang benar untuk mencapai keselamatan.

                (Fr. Cardo Woi)

“Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”(Mat. 6:18).

Marilah berdoa:

Bapa yang baik, buatlah kami tidak berada dalam kepalsuan. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini