Hari biasa (H)
Sir. 17: 24-29; Mzm. 32;1-2,5,6,7; Mrk. 10:17-27.
Pernahkah kita berada dalam posisi yang sulit dimana pengharapan, cita-cita, usaha dan kerja keras tidak lagi berarti apa-apa? Semua yang dinantikan, dipersiapkam dan hendak menjadi sukacita bagi diri kita justru menjadi kekecewaan. Ketika berada dalam situasi demikian, kita mengalami apa yang dinamakan keputusasaan. Sebab mengharapkan sesuatu yang tidak lagi menjadi bagian dari kemampuan kita sebagai manusia, inilah yang dinamakan kemustahilan.
Atau pernahkah merasakan kebahagiaan karena apa yang kita miliki, sehingga membuat kita selalu bersyukur namun pada satu kesempatan tak dapat merelakan satu hal yang paling berharga dalam kehidupan ini? Semua yang disebutkan di atas akan menjadi baik-baik saja ketika setiap kita mengutamakan sikap merelakan saja.
Injil Markus pada hari ini mengisahkan seorang muda yang kaya. Karena mendambakan keselamatan ia datang kepada Yesus. Namun ia kecewa dan pergi karena jawaban “juallah segala harta milikmu dan ikutlah Aku”. Sebenarnya Tuhan tahu dan mengenal sifat manusiawi kita, bahwa tidak mudah bagi anak-anak manusia untuk meninggalkan segala sesuatu yang membuat nyaman dan bahagia di dunia ini.
Oleh sebab itu, Tuhan tidak hanya berkata bahwa betapa sukarnya orang kaya masuk surga. Hal ini berarti kesukaran untuk memperoleh kehidupan yang kekal sebenarnya bukan dibatasi oleh banyaknya materi dan kekayaan yang dimiliki oleh setiap orang, melainkan oleh besarnya kerelaan hati untuk melihat sebesar dan sebanyak apapun yang dimiliki, sifatnya hanya sementara saja. Dan ketika berada pada tahap ini, Tuhan mengharapkan manusia untuk melepaskan dan memandang lebih dalam lagi arti kehidupan di dunia ini yaitu untuk memperoleh keselamatan.
Putra Sirakh pun dalam kata-katanya yang bijak menggambarkan betapa besarnya belaskasihan Allah bagi setiap orang yang ingin berpaling kepada-Nya. Orang yang kembali kepada Allah adalah mereka yang menyesal akan dosa-dosanya dan melepaskan segala miliknya untuk diarahkan kepada kemuliaan Allah melalui saudara-saudara yang berkekurangan. Orang yang tak mau berpaling itulah mereka yang susaha untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, sama seperti seekor unta melewati sebuah lorong kecil di Kota Yerusalem yang disebut Tuhan sebagai lobang jarum.
(Fr. Joctaf Geres)
“Juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh Kerajaan Surga” (Mrk. 10:21).
Marilah berdoa :
Ya Allah, ajarkanlah kami anak-anak-Mu untuk selalu merelakan apa yang kami miliki demi hidup kekal. Amin.











