Pw. S. Polikarpus, UksMrt (M)
Ibr. 11:1-7; Mzm. 145:2-3,4-5,10-11; Mrk. 9:2-13
Setiap manusia tentu memiliki lima panca indra. Kecuali manusia yang sejak lahir mengalami cacat secara fisik. Panca indra tersebut digunakan manusia untuk menangkap informasi yang berupa rangsangan dari lingkuan luar sekitar agar dapat menjalani hidupnya dengan baik. Panca indra tersebut terdiri dari mata sebagai indra pelihat; hidung sebagai indra penciuman; lidah sebagai indra pengecap; kulit sebagai indra peraba, dan telinga sebagai indra pendengar.
Dalam Injil dikisahkan tentang Yesus yang berubah rupa dan pakaian-Nya menjadi sangat putih berkilat-kilat. Kemudian tampak Elia dan Musa yang berbicara dengan Yesus. Para murid yang melihat peristiwa tersebut pun merasa ketakutan. Maka kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Kemudian datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”
Peristiwa transfigurasi merupakan penyingkapan misteri diri Yesus di hadapan para saksi terpilih bahwa Dia adalah Kristus Putera Allah yang harus disembah bersama Bapa dan Roh. Kehadiran Elia dan Musa sebagai saksi-saksi dari Perjanjian Lama hendak mengungkapkan bahwa Yesus adalah Dia yang akan datang dan yang sekarang telah datang. Sedangkan awan menjadi komponen penuh makna simbolik dan menjadi pembawa pesan pewahyuan diri dari yang ilahi.
Tentu sebagai manusia biasa, para murid sangat ketakutan ketika berhadapan dengan peristiwa ini. Namun melalui peristiwa ini, mereka dan juga kita yang percaya akan Yesus ditantang untuk mengaktifkan seluruh indra yang kita miliki. Sebagai orang percaya, kita diajak untuk mengenal Tuhan dengan seluruh indra yang kita miliki. Tidak hanya melihat kemuliaan Tuhan agar kita dapat percaya, tetapi kita juga perlu merasakan serta mendengarkan tentang kemuliaan yang diwartakan.
Dalam hidup sehari-hari sebagai seorang uskup, Polikarpus telah mengabdi Kristus selama delapan puluh enam tahun dan pada usianya yang sudah lanjut itu, ia tidak pernah berpikir untuk mengkhianati Kristus. Melalui kegigihannya untuk mengemudikan keuskupannya, ia sangat disegani oleh siapapun yang mengenalnya.
Belajar dari pengalaman para murid dan uskup Polikarpus, semoga kita semakin dimampukan untuk mengenal Yesus Kristus dengan indra yang kita miliki tanpa adanya rasa takut.
(Fr. Frederikus Babaubun)
“Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7).
Marilah berdoa :
Tuhan ajarlah aku agar untuk mengenalMu tidak hanya karena melihat tetapi juga merasakan dan mendengar.











