“Kebahagiaan Sejati”: Renungan, Minggu 17 Februari 2019

0
2615

Hari Minggu Biasa VI (H)

Yer. 17:5-8; Mzm. 1:1-2,3,4,6; 1Kor. 15:12,16-20; Luk. 6:17,20-26.

Kebahagiaan adalah pencarian manusia yang sudah berlangsung sejak lama. Bahkan kita dapat mengatakannya sebagai pencarian yang telah ada sejak awal peradaban manusia itu sendiri. Kita bisa menemukannya dalam banyak pendapat, gagasan yang mau merumuskan kebahagiaan. Kiranya kita dapat merenungkannya lewat tiga hal yang terungkap dalam sabda Tuhan hari ini.

Hal yang pertama, dari nubuatan Nabi Yeremia. Sang Nabi menegaskan : Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Diberkatilah yang mengandalkan Tuhan. Seruan sedemikian menjadi kritik bagi mereka yang mencari kebahagiaan dengan semata-mata mengandalkan kemampuan diri sendiri. Bahwa kebahagiaannya adalah hasil pencariannya tanpa campur tangan pihak lain.

Hal yang kedua,  dari Yesus sendiri. Ia menegaskan bahwa yang berbahagia adalah orang yang miskin, sedangkan yang kaya justru celaka. Lewat penegasan tersebut kita dapat melihat bahwa keadaan tidak memiliki apa-apa menjadi sebuah kemungkinan untuk menerima sesuatu dari luar. Berbeda dengan keadaan yang menunjukkan suasana kepenuhan dan kekayaan yang seakan-akan tidak perlu lagi hal lainnya.

Maka penegasan Yesus tentang mereka yang miskin adalah yang empunya Kerajaan Allah, menjadi jelas. Jelaslah bahwa mereka yang miskin adalah yang mempunyai kemungkinan untuk merima sesuatu dari luar. Dan ini menjadi satu bentuk keterbukaan. Orang yang miskin menjadi berbahagia justru kerena sikap penerimaan itu. Terlebih penerimaan atas yang datang dari Tuhan. Itulah kebahagiaan manusia yang merupakan rahmat dari Tuhan.

Hal yang ketiga dari Rasul Paulus, sehubungan dengan makna Kebangkitan Kristus. Bahwa kebangkitan-Nya merupakan bukti iman kristiani itu sendiri. Kristus adalah yang sulung dari kebangkitan yang membawa semua orang kepada kehidupan yang tak berkesudahan. Inilah makna yang sungguhnya dari kebahagiaan itu sendiri, secara istimewa kebahagiaan orang kristiani.

Kita perlu untuk menyadari bahwa kebahagiaan itu adalah hal mungkin bagi kita. Terlebih kebahagiaan adalah juga bagian dari kebangkitan Kristus. Kita berbahagia karena kita mau hidup dalam Kristus Tuhan, yang membawa kita pada hidup yang sejati itu. Dengan demikian maka kehidupan kita akan dilimpahi dengan segala rahmat Tuhan sebagaimana dinubuatkan oleh Yeremaia: “Ia seperti pohon yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan tidak berhenti menghasilkan buah”.

(P. Baju Nujartanto, Pr)

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 6:20)

Marilah Berdoa:

Ya Bapa, semoga kami selalu mensyukuri hidup kami, karena itu adalah hidup yang tak akan berkesudahan. Dalam tuntunan rahmat-Mu kami senatiasa dipenuhi. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini