“Pewarta Sejati”: Renungan, Rabu 6 Februari 2019

0
2036

Pw S. Paulus Miki, ImdkkMrt (M).

Ibr. 12:4-7, 11-15;Mzm. 103:1-2, 13-14, 17-18a; Mrk. 6:1-6

Tantangan dan penolakan merupakan realitas yang sering dijumpai dalam kehidupan manusia. Tak jarang manusia dihadapkan pada berbagai pertentangan, entah pertentangan antara pribadi dengan orang lain, antara pribadi dengan suatu kelompok atau pertentangan antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Realitas yang demikian dapat membuat seseorang menjadi cemas dan melemahkan semangatnya untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah.

Injil hari ini mengisahkan penolakan yang dialami Yesus di tempat asal-Nya yakni di Nazaret. Orang-orang di sana takjub dengan pengajaran Yesus, tetapi menolak pengajaran-Nya. Mereka menolak Yesus karena latar belakang-Nya yang adalah anak tukang kayu: anak Maria dan Yosef, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon. Sehingga Yesus memilih untuk tidak membuat satu pun mujizat di sana, kecuali mengadakan penumpangan tangan untuk menyembuhkan beberapa orang yang sakit.

Tindakan Yesus itu menunjukkan bahwa pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah membutuhkan partisipasi dari manusia agar Kerajaan Allah itu dapat terealisasi. Orang-orang di Nazaret yang telah mengenal Yesus tidak memperoleh mujizat  dari Yesus karena mereka tidak percaya akan pewartaan yang dibawa-Nya. Meskipun mengalami penolakan yang demikan, Yesus tidak lantas patah semangat. Ia masih membuat penyembuhan bagi beberapa orang sakit.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita pun menerima tantangan dan penolakan dari orang atau kelompok tertentu. Misalnya, ketika kita menegur orang atau kelompok tertentu yang berbuat salah, maka orang atau kelompok tersebut menolak atau bahkan mengucilkan dan memusuhi kita. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus telah menunjukkan bagaimana menjadi seorang pewarta sejati. Seorang pewarta sejati tidak lekas patah semangat karena penolakan yang ia terima. Seorang pewarta sejati mesti memiliki kesabaran dan kerendahan hati untuk menerima tanggapan dari orang lain.

Bacaan pertama dari Surat kepada Orang Ibrani memberikan penguatan bagi kita bahwa lewat ganjaran yang kita tanggung, Allah akan memperlakukan kita sebagai anak. Selain itu, St. Paulus Miki yang perayaannya kita peringati hari ini memberikan teladan iman bagi kita tentang bagaimana menjadi seorang pewarta sejati. Ia dengan rela menerima siksaan bahkan dibunuh demi mewartakan Injil di Jepang. Semoga kita pun berani untuk mewartakan Kerajaan Allah tanpa takut ditolak agar kita layak disebut sebagai anak-anak Allah.

(Fr. Frans Labia)

“Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak” (Ibr. 12:7).

Marilah Berdoa:

Ya Allah, bantulah kami untuk menjadi pewarta-Mu yang sejati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini