“Buka Hati”: Renungan, Kamis 17 Januari 2019

0
2333

Pw S. Antonius Abas (P)

 Ibr. 3:7-14; Mzm. 95:6-7, 8-9, 10-11, Mrk. 1:40-45

Dalam hidup ini, manusia dituntut untuk membantu sesama. Manusia tak lepas dari manusia yang lainnya. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai makhluk sosial. Sebagai manusia, kita perlu bijkasana untuk memberikan bantuan yang hendaknya sangat diperlukan oleh orang lain. Hal ini supaya kehidupan kita di dunia tidaklah sia-sia, sehingga kita dapat mengukir kenangan yang indah dalam membantu orang lain yang sedang mengalami  penderitaan.

Penginjil Markus pada hari ini menceritakan misi dari Tuhan Yesus untuk mewartakan Injil dan mengusir setan di seluruh Galilea. Pada waktu itu, datanglah seorang yang sakit kusta. Ia berkata, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku”. Perkataannya menunjukkan sikap keterbukaan dan kepasrahan dirinya kepada Tuhan demi memperoleh keselamatan. Penyerahan diri total ini menumbuhkan iman yang kuat kepada Yesus. Kisah ini menjadi tanda bahwa Allah telah mengunjungi umat-Nya bahkan terlibat secara langsung untuk menyembuhkan dan menyelamatkan umat-Nya.

Saudara terkasih, kita sering membuka diri kita kepada kesenangan yang sementara dan belaian duniawi seperti cinta akan uang, kekuasaan, seks dan sebagainya.  Hal ini membuat kita tidak menghiraukan lagi keselamatan dari Allah. Hidup rohani kita telah buta dan hanya mampu melihat hal duniawi sebagai obat yang menyembuhkan dan membuat hidup kita bahagia. Padahal kebahagaian sejati tidaklah demikian.

Bagi Santo Antonius Abas kebahagiaan sejati adalah cinta Yesus. Ia mencari kebahagian sejati tersebut dengan cara menjual seluruh hartanya dan membagikan harta tersebut. Ia menyadari bahwa cinta Yesus lebih dari segalanya dan dibutuhkan iman total seperti halnya orang yang sakit kusta untuk mendapatkannya. Dia percaya bahwa dalam cinta Yesus kita memperoleh keselamatan. Yesus merupakan tabib keselamatan. Namun Yesus membutuhkan iman kita yang disertakan dengan tindakan kasih kita kepada sesama, supaya kita dapat memperoleh keselamatan dari-Nya. Iman berarti membuka hati kita, datang dan pasrah kepada-Nya, dan kita akan menerima jawaban-Nya “Aku mau, jadilah engakau tahir”.

                        (Fr. Ever Nerow Leftungun)

“Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku” (Mrk. 1:40).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, terangilah selalu hatiku agar aku selalu mengimani Engkau dan berjalan di jalan-Mu.  Amin.                                                                                                                          

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini