“Dorongan Sejati”: Renungan, Kamis 10 Januari 2019

0
2743

Hari Biasa ses. PenampTuh (P)

1Yoh. 4:19 – 5:4; Mzm. 72:2,14,15bc,17; Luk. 4:14-22a

Saudara-saudari terkasih, ketika manusia mampu melakukan perbuatan yang diinginkannya, segalanya tentu sangat menyenangkan. Bahkan hal burukpun menyenangkan bagi manusia ketika menguntungkan dirinya. Tetapi, yang penting yaitu ‘apakah hati manusia memperbolehkannya?’

Hari ini, Yesus menyampaikan suatu nas yang penting dalam kitab nabi Yesaya, tentang Dia serta tujuan kedatangan-Nya di dunia ini. Tujuan kedatangan-Nya ‘untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ Yesus tidak hanya mewujudkan hal itu melalui kata-kata saja, tetapi juga segalanya menjadi nyata melalui perbuatan-Nya sebagai penggenapan nas tersebut.

Perbuatan Yesus selalu terarah pada kebaikan orang lain. Banyak orang berdosa dan menderita yang sangat membutuhkan pertolongan dari-Nya. Maka penting bagi kita untuk mengikuti teladan Yesus. Memang sifat manusiawi sering membuat kita kesulitan untuk melakukan suatu kebaikan, akan tetapi dorongan hatilah yang telah membuat kita paham akan kebaikan yang sesungguhnya. Dorongan hati yang sejati itulah yang berasal dari Kristus. Apa yang difirmankan dan dilakukan oleh Tuhan itu sungguh baik bagi manusia.

Seorang ayah yang baik pasti akan menegur anaknya ketika ia melihat anaknya melakukan kesalahan. Kemudian sang ayah pasti akan menunjukkan teladan yang baik terhadap anaknya. Yesus Kristus dalam karya misi-Nya di dunia selalu menunjukkan teladan perbuatan yang baik bagi umat-Nya, terutama perbuatan bagi keselamatan orang-orang berdosa dan yang menderita.

Tindakan nyata dalam segala pewartaan-Nya pun menjadi wujud ketulusan hati-Nya. Hal ini pula yang perlu dijadikan dasar yang kuat bagi kita, sebagai dorongan dalam melakukan segala perbuatan baik bagi diri sendiri dan terutama bagi sesama manusia. Awalilah hidupmu di tahun yang baru dengan suatu perbuatan yang baik, karena suatu awal yang baik merupakan langkah yang tepat untuk mewujudkan kebaikan yang selanjutnya dalam hidup kita di dunia.

(Fr. Valentino Wullur)

“Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Luk. 4:22).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah aku agar dapat memahami dan menemukan kebaikan yang sejati. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini