“Rendah Hati”: Renungan, Rabu 2 Januari 2019

0
2389

Pw. S. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze Uskup dan Pujangga Gereja (P)

1 Yoh 2:22-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh. 1:19-28

Zaman sekarang ini ada banyak orang lebih ingin memperlihatkan jabatan, kuasa, dan kekayaan mereka. Pada mereka selalu ada keinginan untuk menomor-satukan diri. Bagi mereka tak ada hal yang lebih utama daripada diri sendiri. Sikap ini sudah menjadi kebiasaan yang kadang kala tak disadari, sehingga membawa mereka tenggelam dalam keegoisan dan kesombongan diri. Nilai kerendahan hati pun akhirnya dikesampingkan. Padahal, kesejatian hidup seorang Kristiani terungkap nyata dalam sikap rendah hati.

Saudara terkasih, rendah hati adalah nilai yang sangat patut dikagumi tetapi sangat sulit dihayati. Oleh karena itu, marilah kita belajar dari Santo Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze hari ini. Walaupun memiliki kehormatan dan pujian, mereka sadar untuk bersikap ramah dan rendah hati kepada semua orang. Kerendahan hati mereka patut diteladani. Selain itu, kita juga dapat meneladani Yohanes Pembaptis. Ia datang sebagai utusan Allah, tetapi menyatakan diri sebagai orang yang tidak memiliki kapasitas apa-apa dibandingkan dengan Yesus, Sang Mesias. Ia memperkenalkan diri hanya sebagai untusan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Tindakan ini merupakan suatu bentuk kesadaran akan kerendahan hati yang sangat dalam.

Kerendahan hati Santo Basilius, Santo Gregorius, dan Yohanes Pembaptis lahir dari kesadaran. Mereka sadar akan tugas, tanggungjawab dan perutusan yang diemban. Kuasa yang diperoleh tidak menjadikan mereka sombong dan haus akan kuasa. Banyak orang bisa saja memuji karya-karya yang mereka perbuat, namun mereka tetap sadar bahwa mereka adalah utusan yang melaksanakan tugas perutusan. Kesadaran ini membawa mereka pada sikap rendah hati yang sangat dalam.

Saudara terkasih, untuk mencapai kerendahan hati kita perlu untuk selalu sadar diri. Kita perlu untuk menyadari siapa diri kita, apa yang sedang kita kerjakan, dan untuk apa kita bertindak. Kadang kala muncul motivasi-motivasi keliru yang mengarahkan diri kita pada keegoisan dan kesombongan diri. Hendaknya hal-hal tersebut ditinggalkan. Belajar dari orang kudus yang diperingati hari ini, kita diajak untuk sadar diri dan selalu terbuka untuk sikap kerendahan hati.

 (Fr. Aldo Adelbert Oping)

“Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan bagi Tuhan!” (Yoh. 1:23)

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami sadar untuk selalu rendah hati agar hidup kami terarah kepada-Mu. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini