“Kekuatan Kata”: Renungan, Rabu 26 Desember 2018.

0
2971

Pesta S. Stefanus, Martir Pertama (M)

Kis. 6: 8-10; 7: 54-59; Mzm. 31: 3cd-4, 6, 8ab, 16bc, 17; Mat. 10: 17-22

Bagi banyak orang kata-kata yang diucapkan oleh pribadi tertentu memiliki makna yang sangat mendalam. Apalagi kata-kata dari orangtua, orang yang dicintai, atau mereka yang dianggap bijak tentunya membawa spirit tersendiri bagi yang mendengarkan. Begitupun kita pada situasi tertentu menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan isi hati bagi sesama, apakah itu isi hati senang, sedih, kecewa, bangga atau pula harapan dan cita-cita. Kata menjadi sebuah sarana manusia untuk memahami dan mengekspresikan idenya.

Injil hari ini menceritakan penganiayaan yang akan menimpa semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Penganiayaan akan menjadi sebuah kenyataan yang ngeri karena berupa siksaan, pengucilan bahkan pembinasaan. Namun kata-kata dari Allah sendiri melalui Roh Kudus akan memberikan kekuatan dan keberanian bagi mereka yang akan dihakimi dan menghadapi ajal. Perkataan Kristus menjadi sebuah penghiburan dan harapan bagi setiap orang yang percaya termasuk kita di zaman ini.

Terang dan gelap, baik dan buruk, sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal inilah yang telah dialami oleh Santo Stefanus yang menjadi seorang martir pertama dalam gereja. Dia dengan berani menjadi saksi iman dan dari situlah, ia telah mewartakan wafat dan kebangkitan Yesus. Tindakan yang dilakukan oleh Santo Stefanus adalah tindakan iman yang sejati, karena walaupun telah mengalami penderitaan ia tetap mendoakan mereka yang menganiayanya dan karena imannya akan Yesus, maka saat ajal mendekatinya ia melihat Yesus Tuhan. Kesetiaan akan imannya kepada Kristus dan belaskasih yang ditunjukkannya ketika dihujani batu, membuat dirinya layak memandang Dia yang terlebih dahulu menderita sengsara. Sangatlah pantas Santo Stefanus menjadi teladan bagi setiap orang beriman dalam perbuatan dan kesaksian.

Dalam kehidupan sehari-hari, tindakan untuk meneladani apa yang dikatakan oleh Yesus, akan membuat kita mengalami cobaan yang sama dengan yang dialami oleh Santo Stefanus. Tetapi kita tidak perlu khawatir, karena Allah sendirilah yang akan berbicara dalam diri kita dan kita akan memperoleh keselamatan daripada-Nya. Hari ini Santo Stefanus telah mengajarkan kepada kita agar tetap berani menunjukkan kesejatian iman akan Kristus yang lahir di dunia untuk disalibkan demi keselamatan umat manusia.

(Fr. Emanuel Paji Sopa)

“Ya Tuhan Yesus terimalah rohku” (Kis. 7: 59b)

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk setia kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini