“Nama Yang Kudus”: Renungan, Senin 17 Desember 2018

0
2087

Hari Biasa Khusus Adven (U)

Kej. 49:2,8-10; Mzm. 72:1-2,3-4ab,7-8,17; Mat. 1:1-17.

Apalah artinya sebuah nama? Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Namun perlu dipahami bahwa di balik nama ada makna yang tersimpan di dalamnya. Nama yang akan dibawa terus sampai pada akhir hidup dan menjadi sebuah kenangan. Tetapi dari nama juga bisa dilihat garis keturunan seseorang. Maka tidak jarang ada penilaian baik buruknya seseorang dari garis keturunannya.

Kisah Yakub dalam kitab Kejadian, yang memberi nasihat kepada anak-anaknya, menyapa mereka satu persatu dengan menyebut nama mereka. Nama yang diberikan sesuai dengan anugerah yang diberikan Allah kepada mereka masing-masing. Namun dalam bacaan pertama ini, hanya satu nama yang disebutkan yaitu Yehuda. Tentang Yehuda dikatakan, “Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa” (Kej. 49:10).

Berkaitan erat dengan bacaan Injil hari ini. Ditunjukkan tentang silsilah Yesus Kristus yang mau mengingatkan kita tentang garis keturunan Abraham sampai pada Yesus Kristus. Injil Matius mau menekankan dan menunjukkan kepada pembacanya bahwa Yesus Kristus yang dilahirkan oleh perawan Maria adalah pribadi yang hadir dari keturunan orang-orang yang dituntun oleh Allah.

Allah yang telah merencanakannya. Allah yang telah menunjukkan kuasa-Nya kepada orang-orang pilihan pada zaman Perjanjian Lama. Sampai pada para nabi menubuatkan kehadiran sang Mesias. Rencana Allah kemudian dinyatakan melalui perawan Maria. Memang bukan Maria langsung yang berasal dari keturunan dalam silsilah itu, tetapi Yusuf yang adalah keturunan Yakub. Dengan keberanian, Yusuf mengambil Maria menjadi istrinya maka lahirlah Yesus Kristus, yang kemudian disebut sebagai keturunan Daud (bdk.Mat 1:17).

Dari silsilah Yesus Kristus ini kita diajak menyadari kembali apa yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita. Sesuatu yang ada di belakang kita yang telah menjadi sejarah hidup kita. Mungkin ada sesuatu yang tidak menyenangkan, atau dianggap berasal dari keturunan yang tidak baik. Maka silsilah Yesus Kristus yang menjadi catatan sejarah untuk keselamatan kita, menyadarkan kita juga bahwa masing-masing memiliki masa lalu yang berbeda. Kita mengambil teladan yang baik dari pengalaman orang-orang dalam silsilah Yesus. Serentak juga belajar dari pengalaman masa lalu kita. Mari bangkit menjadi lebih baik!

(Fr. Antonius Sadulia)

“Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat. 1:17).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah selalu langkah hidup kami. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini