Hari Biasa Pekan II Adven (U)
Sir. 48:1-4,9-11; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; Mat. 17:10-13.
Dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran seorang figur kadang membuat orang bertanya-tanya tentang figur tersebut. Sehingga nampak bahwa ada usaha pengenalan, walaupun hal itu tetap masih terbatas. Keterbatasan pengenalan ini menghadirkan rupa-rupa tindakan, yang terjadi dalam diri orang yang berusaha untuk mengenai figur yang patut dikenali itu. Usaha pengenalan itu dalam kenyataan hidup seringkali menjadi suatu hal yang tidak mudah. Penyebab utama ialah, karena ketidakpercayaan yang menuntun, sehingga orang tidak membuka diri.
Bacaan Injil hari ini menampilkan figur-figur yang menjadi jalan untuk pengenalan tersebut, tetapi orang masih kurang percaya. Peristiwa setelah pemuliaan Yesus di atas gunung Tabor, dengan pertanyaan dari para murid Yesus, memberikan suatu gambaran penting bahwa Sang Penyelamat yang dinanti-nantikan telah ada.
Tetapi kehadiran-Nya didahului dengan adanya persiapan, yakni tampilnya para nabi sebagai perintis jalan. Figur yang menjadi perintis jalan untuk datangnya Sang Penyelamat, terkadang menjadi sebuah polemik bagi para audiens karena, apa yang diimpikan tidak sesuai dengan keinginan hati setiap orang yang merindukan penyelamat tersebut.
Pertanyaan dari para murid untuk Yesus tentang perkataan ahli-ahli Taurat, bahwa kedatangan Elia mendahului diriNya, menjadi sebuah bentuk ungkapan ketidakpercayaan. Persiapan untuk kehadiran Sang Penyelamat menjadi salah satu bentuk sikap yang diprioritaskan dalam hidup. Mereka yang selalu bersama-sama dengan Yesus saja, mengalami kesangsian akan identitas Yesus yang sebenarnya sebagai Sang Penyelamat. Ketidakpercayaan para murid mewakili pula ketidakpercayaan orang banyak yang tidak mampu untuk membuka hati dan menerima kenyataan Yesus sebagai Sang Penyelamat yang sudah datang.
Masa Adven menjadi masa persiapan untuk menantikan kedatangan Sang Penyelamat manusia. Masa persiapan ini hendak mengajak kita untuk belajar dari perkataan Yesus bahwa “Memang Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka.” Keterbukaan hati dalam menerima kehadiran Penyelamat, menjadi sebuah sikap yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Tetapi, hal ini juga menjadi tantangan untuk kita dalam membuka diri terhadap segala sesuatu yang menjadi sarana untuk berjumpa dengan Sang Juruselamat.
(Fr. Petrus Fransiskus Kowarin).
“Memang Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka” (Mat. 17: 12).
Marilah berdoa:
Tuhan, bukalah hatiku untuk selalu mendengarkan firman-Mu dalam kehidupanku. Amin.











