“Sumber Kebahagiaan”: Renungan, Rabu 05 Desember 2018

0
2350

Hari Biasa Pekan I Adven (U)

Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 15:29-37.

Dalam menjalani hidup sehari-hari, tentu setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam dirinya. Kebahagian sendiri dapat diartikan sebagai kesenangan dan ketentraman dalam hidup. Kesenangan dan ketentraman yang dimaksud bukan hanya dirasakan secara lahiriah melainkan juga secara batiniah. Kebahagian yang dirasakan seseorang secara lahir dan batin merupakan sebuah kebahagian sempurna. Contohnya, saling pengertian antara suami dan istri akan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangganya; kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi keluarga yang telah lama mendambakan seorang buah hati. Atau memperoleh nilai yang baik ketika ujian akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri dalam hati seorang pelajar.

Bacaan-bacaan hari ini, terutama bacaan Injil mengisahkan bahwa ketika orang banyak melihat Yesus naik ke atas bukit dan duduk di situ, mereka datang berbondong-bondong kepada-Nya. Mereka datang dengan membawa serta orang lumpuh, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus. Lalu Ia menyembuhkan mereka semua. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat. Karenanya mereka memuliakan Allah Israel. Selain itu, ketika di tempat sunyi dan tidak tersedia bahan makanan, Yesus membuat penggandaan tujuh roti dan beberapa ikan kecil demi orang banyak yang kelaparan karena mengikuti-Nya. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh.

Kebahagiaan dikatakan sempurna ketika seseorang marasakannya secara lahir dan batin. Orang-orang Israel yang telah lama mendambakan kebahagiaan, akhirnya dapat menikmatinya secara penuh melalui kehadiran Yesus Kristus. Kedatangan Kristus berarti kebahagiaan bagi siapa pun: orang-orang sakit disembuhkan, orang-orang papa dan miskin dihibur, rezeki diberikan. Semua itu merupakan nubuat yang terlaksana. Penderitaan, kelaparan, kehausan, pendek kata apa saja yang menghalangi kebahagiaan kita akan dihapus saat kedatangan Tuhan. Maka benarlah mazmur Daud: Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Kebahagiaan yang telah dialami oleh bangsa israel dapat pula kita rasakan pada saat ini. Kita dapat mengalami dan merasakannya ketika mendekatkan diri dan menerima Tuhan dalam hidup melalui doa, firman dan ekaristi.

(Fr Frederikus Babaubun)

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mzm. 23:4).

Marilah berdoa:

Yesus, semoga kebahagian secara lahir dan batin dapat hamba rasakan ketika bersama Engkau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini