“Sedia Payung”: Renungan, Sabtu 01 Desember 2018

0
1971

Pw. B. Dionisius dan Redemptus, Biarw Mrt Indonesia (M)

Why. 22:1-7; Mzm. 95:1-2,3-5,6-7; Luk. 21:34-36

“Sedia payung sebelum hujan”. Artinya kita mesti menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum melakukan sesuatu. Ini sebuah perbandingan. Kita memang mesti sedia payung sebelum hujan, supaya tidak basah. Kalau basah tentu kita tak bersiap atau berjaga diri.

Hal ini nyata lewat bacaan Injil yang mengisahkan tentang berjaga-jagalah sambil berdoa karena hari Tuhan akan datang secara tiba-tiba (ay. 36). Persiapan menjadi langkah awal sebagai penentu kesuksesan. Tanpa persiapan tak mungkin ada kesusksesan.

Secara tegas, Tuhan meminta kita supaya menyiapkan diri untuk layak di hadapan-Nya. Layak berarti hidup sesuai dengan keinginan-Nya: hidup bersih dan suci. Kita mesti memurnikan hati dan pikiran kita dari segala yang jahat dan kotor. Selain itu, kita mesti mengusahakan dan mengembangkan kualitas hidup yang baik lewat perbuatan dan perkataan kita. Tindakan yang diperbuat berdasarkan tindakan karitatif seperti yang dilakukan Yesus.

Toh itu belum cukup. Kita juga diminta untuk sujud menyembah di hadapan hadirat-Nya yang kudus lewat berdoa. Doa menjadi sarana kita berbicara dengan Tuhan. Praktisnya, Ora et Labora. Berdoa dan Bekerja.

Semua akan menjadi sukses ketika kedua hal ini berjalan bersama. Seseorang tak mungkin sukses jika hanya mengandalkan usahanya saja. Kenapa? Karena ia mengabaikan bantuan penyelenggaraan ilahi. Bantuan itu datang dari Tuhan lewat doa. Karena Tuhan tak akan membiarkan anak-Nya yang berseru kepada-Nya.

Dengan berdoa, kita sujud merendah dan menyerahkan seluruh hidup kita dalam tangan penyelenggaraan ilahi. Doa mendekatkan diri kita dengan Dia yang adalah Penyelamat. Doa menghantar kita pada jalan keselamatan.

Jika ada persiapan diri dan berdoa, tentu kita tak perlu takut akan kedatangan-Nya. Mereka yang menaati perintah-Nya, pasti dengan tanpa takut begitu menantikan datangnya kemuliaan Tuhan. Mereka inilah murid Tuhan. Sedangkan mereka yang menjauhi bahkan mengabaikan perintah ini, akan dirundung ketakutan. Mereka inilah para musuh Allah.

Demikian pula, Dionisius dan Redemptus yang dengan tak  gentar terus menjadi pewarta kasih Allah yang membuat mereka dimusuhi dan dibunuh. Namun semangat juang sungguh berharga di mata Allah.

Jelas bersiap diri dan berdoa menjadi dua syarat dasar untuk memperoleh keselamatan.  Demikianpun yang ditegaskan lewat bacaan pertama, “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat nabi ini!” (ay. 7).

 (Fr. Ekaristho G. Silap)

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” (Luk. 21:36).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, persiapkanlah diriku seutuhnya dalam pangkuan rahmat-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini