”Doa Orang Buta”: Renungan, Senin 19 November 2018

0
3177

Hari Biasa (H)

Why. 1:1-4; 2:1-5a; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 18:35-43

Setiap kali Perayaan Ekaristi, umat beriman menyantap makanan rohani yaitu Tubuh Kristus. Kepercayaan umat Kristen bahwa Tubuh Kristus membuat diri manusia yang rapuh menjadi lebih mendekati kesempurnaan. Hal inilah yang disebut dengan kesempurnaan seperti Yang Ilahi. Tubuh Kristus yang disantap menjawab kerinduan mereka akan Yang Ilahi.   Pada hari ini, Injil  berbicara tentang orang buta yang rindu bertemu dengan orang yang mau berbelaskasih kepadanya. Kerinduan besar yang ditunjukkan oleh orang buta ini menghasilkan buah yang sangat baik bagi dirinya. Bagi si buta, pertemuannya dengan Yesus pasti menjadi hari yang sangat istimewa di dalam hidupnya. Entah sudah berapa lama ia menunggu, duduk di jalan itu. Mungkin orang-orang sering meludahi dirinya atau mungkin ada orang yang mencibir dirinya.

Pertemuan itu menjadi kesaksian iman bagi orang buta tersebut. Ketika ia mendengar banyak orang lewat, ia bertanya kepada orang-orang itu: “Apa itu?” Orang yang mendengarkannya menjawab bahwa Yesus orang Nazaret sedang lewat di tempat itu. Si buta tidak malu-malu untuk bertanya, bahkan ia berteriak kepada Yesus.

Kerinduannya akan belaskasihan dari orang yang lewat di sana berpuncak pada Yesus. Perasaan rindu dan bingung mungkin bercampur di dalam diri si buta ini, tapi ia tidak segan-segan berteriak dan meminta belaskasihan kepada Yesus. “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku, berilah aku penglihatan”.

Pengharapan yang besar muncul di dalam diri si buta. Kegelisahan dan ketakutan sebelum bertemu dengan Yesus, kini menjadi kegembiraan yang begitu besar di dalam dirinya. Pada akhirnya, pertemuan ini membuahkan penglihatan bagi si buta. Doa yang sederhana dari si buta bisa terkabulkan sesuai kebutuhannya yang selama ini ia harapkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selaku umat beriman sering mengalami hal yang serupa dengan si buta. Kita merindukan banyak hal yang ingin langsung dipuaskan. Namun, sayangnya kita tidak bertidak seperti si buta. Kita hanya mengingini itu dan tidak berdoa kepada Tuhan, atau kita berdoa tapi tidak sungguh-sungguh.

Pada hari ini, kita diajak untuk belajar dari si buta yang berharap dan berdoa. Tuhan akan memberikan apa yang kita ingini, kalau kita sendiri tergerak untuk berdoa, berkontak dengan Dia yang lewat dan melakukan hal itu dengan sungguh-sungguh.

(Fr. Tio Mandagi)

 “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 18:42).

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, ajarilah kami berdoa dan berharap kepadaMu dengan sungguh-sungguh. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini