“Ujian dari Tuhan”: Renungan, Rabu 7 November 2018

0
2542

Hari biasa (H).

Flp. 2:12-18; Mzm. 27: 1,4,13-14; Luk. 6:12-19.

Saudara terkasih, jika kita ingin mmenjadi pegawai dari sebuah perusahaan, kita tentunya akan diuji dengan berbagai tes. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah kita berkompeten dalam pekerjaan tersebut atau tidak. Konsekuensi dari pekerjaan yang kita ambil dalam sebuah perusahaan adalah kita dituntut untuk mempersiapkan diri dan rela untuk berkorban. Kadang kita diminta untuk datang ke kantor walau hujan badai ataupun saat kita bersama dengan keluarga. Yah itulah konsekuensi yang harus kita ambil sebagai karyawan di sebuah perusahaan

Hal serupa juga diperlukan untuk menjadi pengikut Kristus. Dalam bacaan Injil hari ini ada 3 tes atau ujian dari Yesus untuk mereka yang mau menjadi murid-Nya.

Ujian Pertama, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya…. Bahkan nyawanya sendiri, ia tidak layak menjadi murid-Ku.” Hal ini berkaitan dengan mau dan mampu untuk tidak terikat dengan keluarga ataupun diri sendiri. Hal ini mau menekankan bahwa tidak ada yang boleh menghalangi komitmen kita kepada Yesus sebab kadangkala kita jatuh ke dalam pencobaan “harus memlih keluarga atau kebenaran”.

Ujian Kedua, memikul salibnya dan mengikuti Yesus. Kita diminta untuk mau dan mampu mengalami penderitaan demi Yesus. Sebab kadangkala komitmen kita untuk mengikuti Yesus buyar karena takut pada ancaman, takut pada penderitaan atau ketika kita mengalami masalah dan penderitaan, kita melupakan Yesus.

Ujian ketiga melepaskan diri dari segala sesuatu yang duniawi. Sebab kadang kala kita terlalu mencari harta duniawi, adapun setelah kita menemukan begitu banyak harta kita tergiur akan harta tersebut dan akhirnya melupakan Tuhan.

Bisa dikatakan tiga ujian atau syarat inilah yang sangat berat untuk dipenuhi oleh manusia, karena terlalu khawatir akan keluarga, khawatir akan penderitaan, khawatir akan tidak memiliki harta. Kekhawatiran inilah yang kadang membuat kita tidak mau mengikuti, berhenti di jalan dan kadang gagal dalam mengikuti Yesus. Kita terlalu takut atau cemas dan membuang hal yang penting. Hal yang penting itu apa? Yakni Tuhan Yesus. Yesus memberikan ujian atau tes agar kita menyadari bahwa untuk mengikuti-Nya kita tidak boleh main-main, ragu-ragu, ataupun setengah-setengah! Sebab Ia melakukan banyak hal kepada kita dengan tidak setengah-setengah ataupun ragu!

(Fr. Hanny Ering)

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:27).

Marilah berdoa:

Tuhan, aku ingin mengikuti-Mu dengan sepenuh hati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini