“Berbuat Baik”: Renungan, Senin 5 November 2018

0
2835

Hari Biasa (H) .

 Flp. 2:1-4; Mzm. 131: 1,2,3; Luk. 14:12-14.                             

Perjamuan atau pesta selalu  berkaitan dengan undangan. Lazimnya, jika mengadakan sebuah pesta perjamuan, kita mengundang orang-orang yang dekat ataupun yang kita kenal. Kedatangan mereka merupakan suatu kehormatan bagi kita. Bahkan siapa kita, dapat diukur dengan melihat siapa yang datang dalam perjamuan yang kita adakan. Siapa tamu kita mencerminkan siapa diri kita.

Yesus dalam Injil hari ini justru berkata sebaliknya. Mengapa demikian? Karena bagi orang Yahudi, mengundang seseorang dalam sebuah perjamuan lebih dari sekedar pencitraan semata. Orang diundang adalah mereka yang termasuk dalam kelompok mereka, semartabat dengan mereka dalam hal kehidupan sosial. Mereka dianggap layak makan bersama, bergaul, berpesta, bergembira dan bahkan karena perjamuan seseorang dianggap bersaudara.

Karena itulah orang Yahudi sangat heran ketika melihat Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Dengan mengundang orang miskin, cacat, lumpuh dan buta berarti yang kita pertaruhkan bukan hanya sekedar soal balas membalas, melainkan juga harga diri kita pun. Hal ini juga menuntut sebuah pengorbanan dari kita.

Dalam hal ini Yesus mau merubah pola pikir baik orang-orang Yahudi maupun kita dalam hal berbuat baik. Yesus menghendaki agar berbuat baik hendaknya dilakukan tanpa melihat perbedaan sosial, agama dan kepentingan pribadi. Dengan kata lain, berbuat baik hendaknya dilakukan tanpa pamrih.

Injil hari ini juga menyadarkan bahwa kitalah para undangan itu. Kita inilah orang miskin, buta, cacat dan lumpuh secara rohani, yang diundang oleh Allah untuk ikut dalam pesta perjamuan-Nya yakni dalam perayaan ekaristi maupun dalam perjamuan abadi di surga nanti. Dengan mengundang kita, Allah mempertaruhkan harga diri-Nya.

Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai para undangan di hadapan Allah yang mengundang kita? Kita perlu mengundang Dia, menjadikan Dia sebagai sumber kebaikan. Dengan demikian, kebaikan Allah pun akan nyata dalam hidup kita. Dengan membiarkan Allah berkarya dalam diri kita, kita pun mampu untuk berpikir dengan baik dan berbuat kebaikan.

(Fr. Agus Udenge)

“Berharaplah kepada Tuhan hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! (Mzm. 131:3).

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukan aku untuk berbuat baik. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini