“Tanpa Henti Mencinta”: Renungan, Minggu 04 November 2018

0
3367

Hari Minggu Biasa XXXI (H)

 Ul. 6:2-6; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,47,51ab; Ibr. 7:23-28; Mrk. 12:28b-34.

Semua orang  ingin dihormati, dihargai, dan terlebih ingin dicintai. Dengan dicintai, orang akan merasa dimengerti, diterima dan  diakui sebagai pribadi yang bermartabat. Sebaliknya jika orang dibenci, dihina bahkan dimusuhi, maka orang tersebut akan merasa tersakiti, terluka dan terkucilkan.

Suasana dalam hidup bersama bisa tercipta dengan baik dan membahagiakan jika orang-orang yang hidup bersama itu saling menghargai dan mencintai. Sebaliknya suasana kebersamaan menjadi  tidak nyaman, saling curiga,  kalau orang-orang hidup dalam permusuhan, pertentangan dan tidak saling menghargai satu sama lain.

Dalam Injil hari ini, Yesus secara tegas memerintahkan supaya murid-murid-Nya mengusahakan suatu kehidupan yang ditandai dengan semangat saling mencintai.  Yesus  mengajarkan sesuatu yang sangat berguna dan esensial bagi kehidupan bersama. Hal mencintai bukan hanya menjadi tuntutan kelompok tertentu, tetapi semua orang dituntut untuk mencintai.

Dalam mencintai, murid-murid Kristus hendaknya mencintai siapa saja yang dijumpai setiap hari. Murid Kristus tidak akan memilih orang-orang tertentu saja yang akan dicintainya.  Selain itu, murid-murid Kristus harus menjadi yang pertama dalam mencintai.

Jadilah orang pertama dalam mencintai, karena Dia yang telah lebih dulu mencintai dengan memberikan diri-Nya mati di kayu salib sebagai tebusan atas dosa-dosa. Ada nilai lebih yang terkandung di dalamnya karena ungkapan dan pemberian diri untuk lebih dulu mencintai sebelum orang lain mencintai.

Mencintai jauh lebih berharga dan bernilai daripada membangun sikap untuk hanya dicintai. Karena itu sebagai orang Kristiani panggilan untuk mencintai menjadi suatu ajakan tapi juga menjadi suatu perintah yang wajib dilakukan. Dengan saling mencintai dalam suatu kebersamaan suasana rukun, bersaudara satu sama lain akan tercipta dan cita-cita luhur seperti ketentraman dan kedamaian dapat dialami.

Perintah Tuhan untuk mencintai menjadi ajakan yang membutuhkan jawaban dari semua murid. Mencintai berarti punya per”hati”an kepada sesama. Kita akan lebih dulu mencintai mereka, biarpun mungkin mereka tidak akan membalas kebaikan yang sudah kita tunjukkan.

Biarlah Tuhan yang nanti akan membalas kebaikan dan cinta yang sudah kita berikan itu. Dengan mencintai semua murid sudah berpartisipasi menciptakan dunia ini menjadi tempat yang tentram, damai dan layak untuk dihuni oleh manusia.

(P. Melky Malingkas)

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarlah kami untuk terus mengasihi sesama kami. Amin.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini