Hari Biasa (H).
1Kor. 12:31 – 13:13; Mzm. 33:2-3,4-5,12,22; Luk. 7:31-35.
Kebenaran seringkali bersifat subyektif. Sesuatu dapat benar sejauh saya menginginkannya. Yang lain menjadi salah ketika saya menolak untuk mengatakan benar. Kebenaran seperti ini patut disayangkan karena lahir dari egoisme pribadi tanpa melihat realita yang ada.
Sifat dari kebenaran yang ada bersifat kekanak-kanakan karena tidak mengandung sebuah kepastian. Kebenaran yang sedemikian lantas menyebabkan dilema bagi para pelaku kebenaran (maju kena, mundur kena). Seseorang akan merasa selalu salah sebab tidak ada standar yang tepat untuk menetapkan sejauh mana sebuah perilaku itu benar atau salah.
Yesus ada dalam situasi semacam ini. Ia berhadapan dengan orang-orang Farisi yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan sebuah kebenaran. Ia menganalogikan orang Farisi sebagai anak-anak.
Seorang anak kecil tidak konsisten dengan pendirian yang dimiliki. Inkonsistensi ini terlihat dari ketidakpastian akan banyaknya tuntutan dan keinginan yang dimiliki. Inkonsistensi yang sama dimiliki oleh orang Farisi. Ini menjadi bahan kritik dari Yesus untuk mereka.
Inkonsistensi yang ditampilkan di atas nampak dalam kritik terhadap cara hidup Yesus dan Yohanes Pembaptis. Cara hidup yang radikal ditampilkan Yohanes Pembaptis. Ia mengasingkan diri dari cara hidup hedonis dan konsumeris. Makanannya sehari-hari adalah belalang dan madu hutan. Atas cara hidup sedemikian, Ia dikritik oleh orang Farisi. Mereka menganggap dia kampungan dan norak.
Cara hidup lain yang bertolak belakang dari cara hidup Yohanes Pembaptis ditampilkan Yesus. Ia bergaul dengan orang berdosa, makan dan minum bersama dengan mereka. Tapi cara hidup-Nya ini juga dikritik. Ini sebuah bentuk inkonsistensi. Tidak tahu apa yang harusnya dibuat sehingga meninggalkan kesan yang baik. Atas cara demikian mereka dikritik Yesus.
Sesungguhnya tindakan orang Farisi itu terjadi karena tindakan mereka tidak dilandasi dengan kasih. Paulus menggambarkan orang-orang demikian sebagai tong kosong yang berbunyi nyaring. Bahwa benar orang Farisi sungguh punya iman kepada Tuhan. Tapi oleh Paulus iman itu menjadi sia-sia karena tidak dilandasi dengan kasih. Tanpa kasih mereka menjadi sombong, cemburuan, pemarah, bahkan egois.
Sikap orang Farisi ada dalam diri kita. Kita seringkali menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Ketika ada saudara kita yang malas ke gereja, kita sering mempersalahkan mereka. Tapi ketika mereka menjadi rajin, kita menghujat mereka dengan kata-kata “sok suci” dst.
Kita malahan membingungkan mereka. Mari belajar dari Sabda Tuhan, bahwa yang pertama-tama bukan soal seberapa besar iman yang kita miliki, tapi seberapa besar kasih yang ada dalam diri kita. Tempatkanlah kebenaran pada porsi yang sesuai.
(Fr. Eto Laian)
“Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia Tuhan” (Mzm. 33:5).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, semoga kami dapat menjadi pelaku kebenaran yang sejati. Amin.











