“Tanda Keselamatan”: Renungan, Jumat 14 September 2018

0
4254

Pesta Salib Suci (M)

Bil. 21:4-9, Mzm. 78:1-2, 34-35, 36-37, 38; Flp. 2:6-1; Yoh. 3:13-17

In cruce salus, yang berarti di dalam salib ada kemenangan. Sebagai orang Katolik setiap hari kita menandakan diri kita dengan tanda salib yang kita yakini sebagai tanda kemenangan Kristus. Pada hari ini Gereja Katolik di Keuskupan Manado merayakan Yubileum 150 tahun kembali dan berkembangnya Gereja di Keuskupan ini.  Ada banyak kegiatan dilakukan. Salah satunya yaitu perarakan salib suci yang memberi pesan bahwa Salib adalah tanda keselamatan.

Dalam bacaan pertama bangsa Israel bersungut-sungut dalam perjalanan mereka menuju tanah terjanji sehingga Tuhan Allah mengirimkan ular tedung dan mematuk mereka hingga mati. Namun, mereka yang memandang ular tembaga yang didirikan oleh Musa, mengalami keselamatan. Bacaan kedua menunjukkan bagaimana Yesus mengosongkan diri-Nya karena ketaatan-Nya kepada Bapa dan cinta-Nya kepada manusia.

Injil hari ini mengisahkan Kasih Allah kepada dunia. Allah menganugerahkan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Peristiwa salib menunjukan cinta kasih Allah yang begitu besar bagi manusia. Allah berinisiatif menyelamatkan umat manusia.

Yesus adalah jaminan keselamatan. Kematian-Nya di salib adalah sebuah jalan untuk membawa semua orang pada keselamatan. Bagi Yesus, salib bukanlah tanda penghinaan melainkan sebagai bukti kasih dan tanda kesetiaan-Nya kepada Allah Bapa, serta cinta-Nya kepada umat manusia.

Pesta Salib Suci yang dirayakan oleh Gereja hari ini, merupakan suatu pengenangan akan arti Salib Kristus bagi kita. Gereja sejak berabad-abad lamanya memandang salib Kristus sebagai lambang kasih dan pemakluman akan kemenangan Kristus dari alam maut. Pengurbanan yang Yesus lakukan adalah sebuah totalitas pemberian diri yang paripurna bagi umat manusia.

Salib bagi orang Kristen adalah tanda keselamatan. Memandang Salib sebagai tanda keselamatan berarti memandang sesama sebagai saudara. Salib bukanlah beban melainkan suatu rahmat dari Allah bagi kita.  Sebagai pengikut Kristus kita diajak untuk menjadi tanda keselamatan dalam setiap aktivitas kehidupan kita, baik dalam lingkungan Gereja, maupun dalam masyarakat.

Menjadi tanda keselamatan berarti mampu untuk mengasihi sesama kita tanpa membeda-bedakan. Pengalaman kesulitan yang dialami tidak menjadikan kita takut untuk memikul salib dalam hidup setiap hari. Melainkan semakin mengarahkan diri kita untuk berani melepaskan kesombongan, keegoisan dan ketamakan dalam diri.

(Fr. Jufry Dotulong)

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal…” (Yoh. 3:16).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, semoga aku selalu menimba kekuatan iman, pengharapan yang besar, dan cinta yang ikhlas dari salib-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini