Hari Biasa, Pekan XII (H)
2Raj. 24:8-17; Mzm. 79:1-2.3-5.8.9; Mat. 7:21-29
Dalam suatu momen perkuliahan ada seorang dosen yang mengatakan: “Hendaklah kita mendengarkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya dengan tekun supaya kita selamat.” Ketika mendengarkan pernyataan itu, salah satu mahasiswa memberanikan diri untuk bertanya: “Pak, kalau seandainya teman saya ada yang tuli, apakah dia tidak diselamatkan?” Sontak, beberapa teman menertawakan dia karena pertanyaannya kelihatan aneh. Tetapi, dengan raut wajah yang datar, dosen tersebut menjawab pertanyaan itu, katanya: “Teman kamu yang kurang pendengaran itu tetap diselamatkan asalkan hatinya jangan tuli. Dia harus mengaktifkan hatinya. Karena Allah menuliskan hukumNya di dalam hati manusia. Jika hati temanmu itu membatu, dirinya akan kocar-kacir seperti setan putar, dan sudah pasti tidak akan memperoleh keselamatan.”
Aspek pendengaran ditonjolkan dalam Injil hari ini. Yesus mengajarkan orang banyak untuk mendengar dan melakukan apa yang disabdakanNya. Sebab apa yang Ia wartakan itu adalah sungguh-sungguh kehendak dari BapaNya yang telah mengutus Dia. Kendati demikian, pengajaran itu hanya sebatas membuat mereka takjub sesaat. Itulah mengapa, Yesus berkata: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.”
Hidup kita bukan semata-mata karena kekuatan pribadi tetapi karena kekuatan Sabda Allah. Oleh SabdaNya, manusia pertama diciptakan dan kejatuhannya dalam dosa pun dipulihkan. Jadi bodohlah kita bila kita menganggap segala sesuatu yang ada di bumi ini sebagai asal dan tujuan yang menghidupkan. Makanan dan minuman, pakaian dan rumah, teknologi dan ilmu pengetahuan tidak bisa menjamin kehidupan kita kini dan kelak. Ada yang membangga-banggakan pencapaiannya dalam segala segi kehidupan, tetapi toh kelak semuanya itu akan musnah. Tapi yang pasti, dari kekal sampai kekal Sabda Allah akan tetap ada dan tak pernah musnah. Itulah sebabnya, mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah adalah wujud dari pencarian kita akan sumber kehidupan yang menjamin masa depan. Kita harus bijak dalam membangun diri kita selaras dengan kehendak Allah supaya tidak roboh di kala hujan, banjir dan angin.
(Fr. Leman Kelbulan)
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu” (Mat. 7:24)
Marilah berdoa:
Ya Bapa yang Maha Bijaksana, bimbinglah kami agar mampu mengamalkan SabdaMu dalam kehidupan kami. Amin.











