“KASIH DALAM KEBENARAN” : Renungan, Sabtu 15 Juni 2024

0
860

Hari Biasa, Pekan X (H)

1Raj. 19:19-21; Mzm. 16:1-2a.5.7-8.9-10; Mat. 5:33-37.

“Kebohongan adalah racun yang mematikan.” Sesuatu yang sulit bagi kita manusia dewasa ini ialah berkata jujur. Kejujuran hanya sebagai slogan yang mudah dituturkan, namun sulit dipraktikkan. Mengapa demikian? Karena manusia tidak menyukai kebenaran. Mereka lebih suka kebohongan yang membinasakan daripada kebenaran yang menyelamatkan. Lebih suka racun, ketimbang madu.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus memberi penegasan soal kebenaran, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Kebenaran menjadi buah dari kasih. Hidup di dalam kasih berarti hidup di dalam Allah. Sebab kasih itu sesungguhnya adalah Allah sendiri. Caritas in Veritate (Kasih dalam Kebenaran) haruslah menjadi pegangan kita umat manusia, secara khusus mereka yang memiliki iman akan Kristus. Kebenaran adalah bukti dari kasih; sedangkan kasih adalah jalan menuju kebenaran. Keduanya saling terhubung dan dapat mengantar manusia kepada Allah.

Seringkali kebenaran tersembunyi di balik sikap berbelas kasih. Ada yang tampak baik kepada sesamanya, namun itu hanya seperti topeng yang membalut beribu-ribu kebohongan dan ketidakbenaran. Orang sering menggunakan cara ini untuk membenarkan perbuatan jahat. Sadar atau tidak sadar, dengan cara itu, iblis sedang bekerja membawa manusia kepada kebinasaan. Berbohong dan menolak kebenaran tampak membahagiakan tetapi justru saat itu iblis sedang menarik manusia ke dalam jurang malapetaka. Inilah cara kerja iblis untuk menghancurkan dan menjauhkan manusia dari Allah yang adalah kasih dan kebenaran itu.

Manusia perlu berhati-hati terhadap siasat iblis. Dia datang hanya untuk merebut kebahagiaan manusia. Bila saat ini ada yang bertindak tidak benar dan sering berbohong, itu tandanya ia sedang dikuasai iblis. Sebab iblis tidak menyukai kasih dan menolak kebenaran. Supaya kekuasaan jahat tidak menguasai kita, hendaklah kita menyatukan hidup kita dengan Allah yang telah mengajari kita untuk berbuat kasih dalam kebenaran. Kasih dan kebenaran menjadi cara yang ampuh untuk membongkar perangkap si jahat. Berpihak kepada Allah berarti berani berpikir, bertutur dan bertindak dalam kasih dan kebenaran, sekalipun ditantang dengan beragam penderitaan.

(Fr. Juan Tupan)

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah kami agar selalu hidup dalam kasih dan kebenaran yang sudah Engkau ajarkan kepada kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini