“HUKUM YANG SEPADAN”: Renungan, Jumat 14 Juni 2024

0
887

Hari Biasa(H)

1Raj.19:9a,:11-16; Mzm. 27:7-8a.8b-9abc.13-14; Mat. 5:27-32

Konteks kehidupan manusia sekarang banyak berhadapan dengan hukum yang harus diikuti dan dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Prinsip hukum mendasari hidup manusia agar sedapat mungkin manusia memiliki pola kebiasaan yang teratur dan disiplin. Hukum dibuat oleh manusia untuk memanusiakan manusia. Lantas menjadi pertanyaan bagi kita mengapa perlu adanya hukum bagi manusia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menjelaskan dan menegaskan dengan sangat baik bahwa semenjak manusia ada di bumi, kita akan selalu dihadapkan dengan hukum. Apa yang ditampilkan oleh Yesus dalam Injil tidak terlepas dari konteks manusia yang diikat dengan hukum atas dirinya yaitu hukum Taurat dan bertolak dari perzinahan yang dilakukan dalam hidup manusia. Hukum dilihat sebagai bentuk dari kepedulian Tuhan atas hidup manusia.

 Terlepas dari hal demikian, Yesus dengan tindakanNya memperjelas kepada kita dalam kehidupanNya bersama orang-orang saat itu. Yesus tidak meniadakan hukum Taurat akan tetapi Ia menggenapinya. Apa yang mau kita lihat berdasarkan kisah Yesus ini? Yesus berbicara mengenai perzinahan. Jika dilihat dalam kehidupan manusia saat ini, banyak dari kita di kalangan orang tua, remaja, anak-anak muda dan lain sebagainya yang mengalami hal demikian walaupun tidak secara terang-terangan diperlihatkan.

Pola kebiasaan manusia dengan kehidupan dunia, sebenarnya sangat mempengaruhi semua proses dalam berpikir dan bertindak. Apalagi di zaman sekarang, kita tidak lagi mementingkan tubuh kita sendiri dan memperbiasakan tubuh diambil alih oleh nafsu duniawi, sehingga kerap terjadi hal-hal yang tidak bisa dikendalikan dalam menjalani hidup.

Dalam permenungan hari ini, Tuhan menjanjikan kehidupan Kerajaan Surga yang sangat nyaman. Sehingga Yesus menjelaskan hukum itu supaya kita sebagai pengikutNya boleh berjalan bersama lewat doa-doa, agar kedekatan antara kita tidak terlepas demi mencapai kehidupan yang bahagia.

Kita disadarkan lewat teguran Tuhan bahwa hendaklah kita tidak melakukan perbuatan yang tidak wajar seperti perzinahan yang pada dasarnya menyesatkan. Kita dituntut untuk patuh terhadap hukum agar kita sendiri tidak dihukum.Yesus selalu menghendaki agar hidup manusia terbebas dari segala macam kehidupan duniawi. Yesus pun menginginkan agar kita hidup dalam kehidupan yang benar supaya kelak bahagia bersamaNya dalam Kerajaan Surga.

(Fr. Johanis Laritmas)

“Karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka” (Mat. 5:30).

Marilah berdoa:

Ya Allah, hindarkanlah kami dari segala yang jahat. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini