“KEBAHAGIAAN SEJATI”: Renungan, Senin 10 Juni 2024

0
953

Hari Biasa (H)

1Raj 17:1-6; Mzm 121:1-2.3-4.5-6.7-8; Mat 5:1-12

Hari ini Yesus kembali menyapa kita dengan firmannya yang kudus, firman yang mengantar kita pada Sang kudus dan firman yang menyelamatkan kita. Hari ini kita diundang oleh Yesus untuk bersama-sama merenungkan firman Tuhan dari bacaan-bacaan kitab suci. Injil hari ini berbicara mengenai makna kehidupan yang hidupnya ada dalam kebenaran Kristus yang dapat membedakan antara pandangan duniawi atau manusiawi pada umumnya dengan pandangan surgawi. Dalam pandangan surgawi itu sebagai manusia yang ada dalam kebenaran ilahi, manusia tersebut beroleh anugerah itu sendiri.

Pada umunya manusia memandang kebahagiaan sebagai suatu hal yang membuat suasana hatinya senang dalam sesuatu yang dimilikinya dan dilakukannya. Dalam hal ini, Yesus mau mengajarkan kepada murid-muridNya untuk jangan memandang kebahagiaan itu menurut kaca mata duniawi melainkan menurut kaca mata surgawi. Di sini Yesus memberikan ucapan kebahagiaan kepada murid-muridNya untuk dapat melakukan apa yang diajarkanNya. Ucapan yang diberikan oleh Yesus itu dapat dirangkai dalam kehidupan umat Katolik yang memenuhi karakter surgawi. Terkait dengan itu karakter surgawi terwujud dalam kebutuhan.

Yesus mengatakan bahwa berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Kata miskin yang dimaksud dalam ayat ini adalah miskin rohani, kesadaran bahwa manusia  membutuhkan Tuhan di dalam hidup ini. Yesus juga mengatakan bahwa berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah. Ini adalah ucapan bahagia yang menyeluruh tentang semua hal yang ada dalam ucapan yang diajarkan Yesus sendiri. Orang yang berbahagia adalah mereka yang suci hatinya, dari mana mengalir ketenangan dan ketentraman jiwa, serta sikap, tutur kata, dan perbuatan baik.

Kekristenan sejati terletak pada hati para pengikut Kristus yang penuh dengan kesucian, kekudusan dan bersih dari kejahatan. Hati tersebut harus dimurnikan oleh iman dan sepenuhnya diisi oleh cinta akan Allah dan sesama serta semesta. Akhir kata, apakah kita sudah memiliki hati yang sedemikian?

(Fr. Cristian A. M. Remetwa)

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8)

 Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga kami menjadi orang yang semakin hari semakin mempunyai hati yang suci. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini