PW Hati Tak Bernoda SP Maria (P).
Yes. 61: 9-11; MT 1Sam 2:4-5,6-7,8abcd; Luk. 2: 41-51
Seringkali kita berjumpa dengan pelbagai persoalan dalam kehidupan. Entah dalam hidup kepribadian kita maupun dengan sesama yang kita jumpai. Persoalan semacam itu menjadi pergumulan yang sulit kita atasi. Dengannya kita bahkan tergoda untuk menyudutkan orang lain atau menjelek-jelekkan sesama kita. Dalam hati kita merasa lebih cocok untuk mengungkapkannya dengan perasaan-perasaan negatif. Ternyata persoalan bahkan pergumulan hidup itu bukan hanya kita yang merasakannya. Bunda Maria pun mengalaminya. Pergumulannya berat dan hampir mustahil wanita seumuran dan sezamannya bisa menanggung persoalan tersebut.
Seperti dikisahkan dalam bacaan Injil pada hari ini, Bunda Maria merasa cemas karena kehilangan putranya yang terkasih. Perasaannya tergoncang. Ini adalah suatu pukulan berat yang dirasakanNya. Dengan perasaan yang bercampur aduk antara cemas dan bingung, Maria bersama Yosef mencari Yesus. Pada saat itu umur Yesus baru dua belas tahun sehingga sudah selayaknya diperhatikan oleh orang tuanya. Persoalan berlanjut ketika Maria sudah menemukan Yesus, putra kesayanganNya. Setelah lelah dan bingung mencari Yesus kemudian menemukanNya, perkataan Yesus justru menusuk hati Maria. Pergumulan yang dialami Maria semakin berat, namun ia menyimpan semua itu di dalam hatinya.
Bunda Maria mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kita dalam hidup memang tak lepas dari masalah atau persoalan. Akan tetapi kita perlu menyikapinya dengan tepat. Kita perlu membawa diri di hadapan Allah dengan meletakkan segala perkara kita. Persoalan yang kita alami tidak serta merta dapat diselesaikan dengan mudah. Apalagi persoalan itu berkaitan dengan kehidupan bersama orang lain.
Di zaman sekarang keegoisan dan keserakahan menjadi pergumulan banyak orang, karena kekesalan dan sikap arogan manusia. Dengannya kita bahkan mengabaikan orang lain. Kita tidak bisa menahan diri untuk mencegah permusuhan dengan orang lain. Kita perlu menyikapi pelbagai persoalan dengan melihat ke dalam diri. Jangan sampai persoalan bersama orang lain menjadi lebih rumit, karena ulah kita sendiri. Bukannya perdamaian tetapi malah menjadi permusuhan.
Kita perlu belajar dari Bunda Maria bahwa persoalan-persoalan yang kita alami tidak bisa kita selesaikan sendiri. Maria mengandalkan Tuhan dengan berkata, “Aku bersukaria di dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku”. Sebab Maria tahu bahwa Allahlah yang akan menutupi segala persoalannya. Tuhan adalah kekuatan kita juga. Maka, andalkan pula Dia dalam kehidupan kita.
(Fr. Arnoldus Lopi)
“Dan ibuNya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Luk. 2:51).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, kuatkanlah kami dalam menghadapi persoalan hidup kami. Amin.











