“HIDUP MENURUT KEHENDAKNYA”: Renungan, Minggu 26 Mei 2024

0
652

Hari Raya Tritunggal Mahakudus (P)

Ul. 4: 32-34.49-40; Rom. 8: 14-17; Mzm. 33:4-5, 39-40; Mat. 28: 16-20

Hidup manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara tidak dapat diserahkan kepada kehendak pribadi masing-masing orang. Bila itulah yang terjadi maka dipastikan keadaan masyarakat, bangsa dan negara akan kacau-balau. Agar supaya keadaan masyarakat, bangsa dan negara tidak jatuh dalam keadaan kacau semacam itu, maka harus ada kehendak umum yang mengaturnya, termasuk mengatur kehendak dari pribadi-pribadi, sehingga masing-masing pribadi harus patuh pada kehendak umum itu. Dalam konteks bernegara kehendak umum itu diejawantahkan dalam bentuk perundang-undangan dan peraturan-peraturan lainnya yang pada dasarnya mengatur hak dan kewajiban warga negara, serta hak dan tanggung jawab negara.

Sejauh ini, hidup bernegara berjalan aman dan teratur karena kepatuhan warga pada kehendak umum itu, walaupun tidak disangkal bahwa ada juga yang tidak menuruti kehendak umum itu, dan lebih mengikuti kehendak pribadi dalam bernegara. Praktek semacam ini terjadi pada negara-negara yang menganut paham demokrasi.

Bila kita merenungkan teks-teks Kitab Suci hari ini, hidup manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak diserahkan kepada satu kehendak umum yang merupakan representasi kehendak-kehendak pribadi, tetapi ditata dan dibangun oleh satu kehendak tunggal, yaitu kehendak Allah. Allah berdaulat penuh dan mutlak. Ia pencipta segala sesuatu, baik di langit maupun di bumi. KedaulatanNya itu tidak tergantung pada semua yang diciptakanNya. Karena kedaulatanNya itu, maka kehendakNya merupakan ketetapan, hukum, perintah yang wajib dilaksanakan. Pelaksanaan atas kehendakNya inilah yang akan membangun hidup manusia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebagaimana sejarah bangsa Israel, diatur sepenuhnya oleh kehendak Allah. Mereka telah mengalami bahwa Allah mereka adalah Allah yang satu-satunya telah berbicara kepada mereka, Allah yang telah membentuk bangsa mereka dan melepaskan mereka dari keadaan-keadaan terpuruk dengan mujizat-mujizat yang mengagumkan dan dahsyat, serta aneka pengalaman lainnya. Atas pengalaman itu, pengalaman mana mengungkapkan pula mengenai cinta dan kemurahan hati Allah bagi bangsa mereka, maka nabi-nabi mewajibkan pentingnya kepatuhan pada kehendak Allah.

Termasuk dalam kehendak Allah ialah apa yang dikatakan oleh Yesus, Anak Allah, Dia yang telah menerima segala kuasa di surga dan di bumi dari Allah BapaNya, kepada murid-muridNya, yaitu perintah untuk pergi dan menjadikan segala bangsa murid-muridNya. Oleh karena itu, agar supaya manusia dapat melaksanakan kehendak Allah, ia harus membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh Allah. Roh ini yang akan menggerakkan dan memampukannya sehingga ia dapat terbebas dari kehendak-kehendak pribadi yang membelenggu jiwanya dan menjadikannya budak dunia.

Sering dalam usaha untuk melaksanakan kehendak Allah manusia ditarik oleh kehendaknya sendiri, sehingga tidak jarang ia menyimpang dari kehendak Allah. Oleh karena itu, agar supaya manusia dapat melaksanakan kehendak Allah, ia harus membiarkan dirinya dipimpin oleh Roh Allah. Roh ini yang akan menggerakkan dan memampukannya sehingga ia dapat terbebas dari kehendak-kehendak pribadi yang membelenggu jiwanya dan menjadikannya budak dunia.

Hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Semoga hari raya ini semakin membuat kita terbuka dan patuh pada kehendak Allah. Hendaknya kita teguh percaya bahwa tatkala kita patuh melaksanakan kehendak Allah maka terbentang bagi kita jalan kehidupan, kebahagiaan, dan keselamatan.

 

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Rok Kudus” (Mat. 28:19).

(Pst. Amrosius Wuritimur, Pr)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah kami rahmatMu, agar kami selalu melaksanakan apa yang menjadi kehendakMu dalam hidup ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini