“PERGI atau BERTAHAN?” : Renungan, Jumat 24 Mei 2024

0
788

Hari Biasa, Pekan VII (H)

Yak. 5:9-12; Mzm.103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mrk. 10:1-12

Microcheating atau selingkuh tipis-tipis menjadi fenomena kekinian yang bisa merusak hubungan suami-istri bahkan berpotensi pada pisah ranjang.  Tentu ini adalah masalah serius bagi keluarga-keluarga saat ini. Kendati demikian, perceraian bukanlah solusi terakhir untuk  mengatasi permasalahan tersebut. Sebab sampai saat ini, Gereja Katolik menolak perceraian dengan alasan apapun dan tetap memegang teguh keutamaan perkawinan yaitu satu (unitas) dan tak terceraikan  (indissolubilitas). Mengapa demikian? Apa dasarnya?

Hari ini dalam Injil Yesus memberikan jawaban serta alasan mengapa perceraian itu tidak diperbolehkan. MenurutNya, perceraian sama sekali tidak dikehendaki oleh Allah. Perintah perceraian yang dituliskan Musa pada zamannya, lahir dari ketegaran hati bangsa Israel pada waktu itu. Sebab sejak semula Allah menciptakan manusia (pria dan wanita) serta menghendaki mereka bersatu menjadi satu daging. “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.” Artinya, ketika seorang menceraikan pasangannya, ia   mengkhianati Allah dan telah berbuat zinah.

Perkawinan bukan hanya keinginan manusia semata. Perkawinan adalah persatuan antara dua insan yang saling berjanji untuk hidup setia dan sepenanggungan dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit. Janji ini diucapkan di hadapan Allah dan sesama.  Kendati demikian, janji itu seringkali terabaikan ketika salah satu pasangan tak lagi setia. Ketidaksetiaan ini menciptakan kecemburuan yang pada gilirannya membuat luka dalam keluarga. Berhadapan dengan luka itu, ada dua pilihan yang harus diambil: (1). Tetap bertahan untuk mengobatinya; atau (2). Pergi meninggalkannya. “Pergi  sulit, bertahan sakit”. Seorang  pengecut datang di saat bahagia, pergi dikala susah. Sebaliknya, seorang Kristiani sejati tetap bertahan sekalipun kecewa, marah, sedih karena ditipu dan diduai. Ia rela mengampuni dan mencari pasangannya yang hilang serta membawanya pulang ke rumah. Inilah perkawinan sejati yang dikehendaki oleh Allah.

Bahtera rumah tangga haruslah diarungi dengan penuh kesetiaan. Tak ada keluarga yang baik-baik saja. Pasti ada kesalahpahaman dan kecemburuan. Tetapi hal itu bukanlah alasan untuk bercerai. Mestinya, masalah seperti itu justru menjadi momen untuk membuktikan kesetiaan pada janji yang diucapkan. Pilihan untuk bertahan di tengah kesulitan dan penderitaan tidak memperburuk keharmonisan dalam rumah tangga. Lebih baik tinggal dalam bahtera yang diombang-ambing oleh badai, daripada melompat keluar dari bahtera itu yang belum tentu menjamin keselamatan. Perkawinan sejati bukan soal yang enak-enak saja tetapi kesiap-sediaan bekerja sama memperjuangkan kebahagiaan bersama di tengah pelbagai kesulitan. Bertahan walaupun sakit, daripada pergi  tetapi berzinah. Mau selamat atau binasa? 

“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.” (Mrk. 10:9)

  (Fr. Rio Batlayeri)

Marilah berdoa:

Ya Allah berkatilah setiap keluarga, agar senantiasa setia dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini