Hari Biasa (H)
Yak: 5:1-6; Mzm. 49:14-15b,15cd-16,17-18,19-20; Mrk. 9:41-50
Hidup berdamai dengan sesama adalah impian bagi kita semua. Perdamaian selalu menjadi cita-cita bersama, karena dalam hidup yang damai terdapat keadilan dan kesejahteraan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan menjadi faktor utama konflik yang berkepanjangan. Faktor inilah yang menjadi akar utama manusia selalu hidup dalam konflik.
Hari ini Yesus mau mengajak kita semua untuk hidup berdamai. Dalam bacaan Injil hari ini dikatakan, hendaklah kita semua mempunyai garam dalam diri kita dan selalu hidup berdamai dengan yang lain. Garam dikatakan sebagai pemberi cita rasa yang mampu menggugah hati seseorang. Dengan garam yang kita miliki, kita diharapkan untuk memberikan atau membagikan garam tersebut kepada orang lain, sehingga cita rasa penghargaan kepada kemanusiaan selalu dijunjung tinggi.
Yesus menegaskan bahwa, “lebih baik bagi engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan terkudung, dari pada utuh dengan kedua tanganmu dibuang dalam api yang tak terpadamkan”. Maksud dari perkataan Yesus tersebut, bahwa hidup kita ini harus bermakna bagi orang lain. Kita diajak untuk melayani semua orang dengan potensi yang ada dalam diri kita yaitu kebaikan dan kebenaran. tentunya semua itu perlu ketulusan, usaha dan perjuangan yang tak henti-hentinya.
Oleh sebab itu, segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita haruslah dibagikan kepada orang lain. Sehingga, kebaikan yang kita bagikan itu dapat dialami atau dirasakan oleh orang lain. Hidup berdamai mengandaikan bahwa semua orang hidup harmonis, aman dan tentram. Dengan demikian kita semua diajak untuk memperjuangkan kedamaian dengan garam yang kita miliki.
“… Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Mrk. 9:50)
(Fr. Janio Christian Supit)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, jadikanlah kami seperti garam yang dapat memberikan rasa hidup, kebaikan dan perdamaian bagi sesama. Amin.











