“KELAHIRAN BARU DALAM ROH”: Renungan, Selasa 9 April 2024

0
1060

Hari Biasa Pekan II Paskah (P)

Kis. 4:32-37; Mzr. 93:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15.

Dalam bacaan injil hari ini terdapat satu kalimat yang sangat menarik untuk direnungkan bersama yakni “Kamu harus dilahirkan kembali.” Kalimat tersebut diucapkan oleh Yesus kepada Nikodemus. Makna dari kalimat itu membingungkan. Apakah mungkin seseorang dapat dilahirkan kembali? Jika ya, lantas bagaimanakah caranya?

Jika kita memaknai kalimat “dilahirkan kembali” dalam konteks kehidupan sehari-hari, maka akan ditemukan jawaban bahwa manusia seringkali mengalami peristiwa tersebut. Peristiwa dimana kita mengalami “hidup baru” dari kehidupan itu sendiri. Misalnya ketika menginjak usia balita kita akan mulai mengenal hal-hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya. Bagaimana caranya membaca, menulis, ataukah berkenalan dengan orang-orang baru di lingkungan kesekitaran kita. Itu semua merupakan hal baru yang pernah kita alami. Atau ketika berusia dewasa dan mulai masuk dalam kehidupan berumah tangga, seseorang akan merasakan peristiwa baru dalam hidupnya. Seseorang mulai belajar bagaimana menjadi pasangan yang baik, atau menjadi orang tua yang pengertian dan menyayangi anak-anaknya. Semua itu merupakan hal baru yang akan dirasakan oleh semua manusia.

Dalam konteks bacaan kitab suci yang kita dengarkan hari ini, kalimat “dilahirkan kembali” merujuk kepada bagaimana sebagai seorang pengikut Kristus, kita mengimani ajaranNya dalam memperbaharui kehidupan kita menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Untuk dapat memperbaharui diri, yang harus kita lakukan adalah meninggikan nama Tuhan dalam segala tindakan kita seperti yang tertulis dalam bacaan hari ini: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal.” Jelaslah bahwa dengan meninggikan nama Tuhan, dan mengikuti perintahNya kita telah memulai hidup yang baru yakni menjadi abdi Allah yang taat dan setia.

Dengan cara apakah kita dapat meninggikan nama Tuhan? Dalam bacaan pertama kita menemukan jawabannya, yakni dengan mengasihi sesama. Dengan memberikan apa yang menjadi kelebihan kita kepada sesama kita yang membutuhkannya. Secara tidak langsung, kita telah menghayati ajaran dari Yesus untuk mengasihi, dan dengan demikian nama Tuhan telah ditinggikan melalui perbuatan kita.

Fr. Herman Kelvin Ngeljaratan

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14.15).

Marilah berdoa:

Bapa yang Kuasa dan Kekal, baharulah hidup kami dalam RohMu yang kudus. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini