“KASIH-MU TAK BERKESUDAHAN”: Renungan, Minggu 10 Maret 2024

0
1069

Hari Minggu Prapaskah IV (U)

2Taw. 36:14-16,19-23; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Ef. 2:4-10; Yoh. 3:14-21

Minggu Prapaskah keempat disebut Minggu Laetare atau Minggu Sukacita. Kita bersukacita bukan karena suatu pesta yang meriah, tetapi sukacita karena adanya pemulihan dan penyembuhan pada pertobatan itu sendiri. Pertobatan dibuat untuk kelegaan hidup dalam Tuhan. Oleh karena itu, pertobatan membuat orang merasakan kasih Tuhan yang luar biasa dalam hidup dan mengalami kesembuhan serta bangkit dari kelumpuhan hidup. Kasih Allah harus dihidupi sebagai bentuk perwujudkan bahwa Allah terus menyertai perjalanan kehidupan manusia. Sukacita terpancar bahwa kasih-Nya tanpa batas dalam menyelamatkan manusia.

Allah selalu mengasihi umat-Nya. Dalam bacaan pertama Allah tidak membiarkan umat-Nya berpaling dengan mengikuti segala kekejian dari bangsa-bangsa lain. Allah memberikan utusan­ sebagai bentuk kasih­-Nya yang luar biasa. Namun dengan berulang kali Allah memberikan kasih-Nya itu, tetapi mereka mengolok-olok utusan Allah. Kasih Allah tidak berkesudahan, Tuhan menggerakkan hati Koresh, raja Persia untuk menggenapkan firman yang diucapkan bahwa siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Tuhan, Allahnya, menyertainya (2Taw 36:23).

Senada bahwa kasih Allah itu menyelamatkan, bacaan kedua menampilkan bahwa Allah kaya dengan rahmat dan kasih-Nya sangat berlimpah. Paulus memberikan penegasan bahwa Yesus Kristus tidak takut untuk memberi diri sampai di kayu salib sebagai bentuk tebusan manusia yang berdosa. Karena itu ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah selamanya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10).

Kasih Allah yang berlimpah ini ditegaskan pada bacaan dari Injil Yohanes yang mengajarkan kepada kita tentang kasih dan penyelamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada dunia, serta pentingnya hidup dalam kebenaran untuk mendapatkan kehidupan yang kekal.

Minggu Prapaskah keempat ini yang penuh sukacita dan kegembiraan menyadarkan kita betapa berlimpahnya kasih Allah sehingga menyerahkan Anaknya yang tunggal untuk keselamatan manusia. Dalam masa pertobatan ini, kita sebagai umat beriman dipanggil untuk menyebarkan kabar baik tentang keselamatan melalui Yesus Kristus. Dengan kasih-Nya kita juga menemukan dalam kehidupan ini harapan, penghiburan, dan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Semoga kita juga menjadi saluran berkat bagi dunia melalui kasih yang kita tunjukkan setiap harinya.

Fr. Frantosius Kadoang

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Marilah berdoa:

Ya Allah, anugerahkanlah kasih-Mu dalam kehidupanku ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini