Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U)
BcE. Ul. 4:1, 5-9; Mzm. 147: 12-13, 15-16, 19-20; Mat. 5:17-19.
Dalam kehidupan ini, kita tidak dapat menghindar dari apa yang disebut dengan perintah dan hukum. Perintah dan hukum yang ada dimaksudkan untuk menata kehidupan manusia agar teratur dan tidak saling merugikan. Namun, dalam kenyataannya kerap perintah dan hukum biasanya dirasakan sebagai suatu beban, terlebih bagi mereka yang tidak biasa hidup secara teratur dan memikirkan diri sendiri. Mereka menganggap bahwa perintah dan aturan yang ada hanya menjadi penghalang bagi kebebasan dan juga mengurangi kebahagiaan. Padahal bila disadari perintah dan hukum bisa menjadi sarana manusia hidup dalam keteraturan dan kebebasan yang sejati. Peraturan dan hukum dapat menjamin kedamaian dan kebahagiaan serta menuntun kita kepada keselamatan dalam Tuhan.
Bacaan pertama menceritakan tentang Musa yang menasehati bangsa Israel yang harus memelihara dan menaati hukum Allah. Hukum Allah itu harus dilaksanakan dengan penuh kesetiaan. Selain itu hukum yang ada harus mereka sampaikan kepada kepada anak-anak, cucu-cicit. Artinya sebagai seorang beriman, hukum yang Allah berikan itu haruslah ditaati sepanjang segala zaman.
Bacaan Injil menampilkan kepada kita Yesus Kristus sebagai hukum sejati yang dari padaNya kita memperoleh jalan menuju keselamatan. Sebagai umat kristiani, kita tentunya harus melihat hukum bukan lagi dalam rupa tulisan belaka. Peraturan dan hukum yang menuntun kita kepada kebenaran ada dalam diri Yesus Kristus sebagai penggenap Hukum Taurat. Ia menjadi jalan yang harus kita lalui dan kebenaran yang kita pegang. Kesetiaan kita kepadaNya akan mendatangkan berkat kedamaian, kebebasan dan kebahagiaan yang sejati.
Keselamatan yang sejati ada dalam diri Yesus. Bilamana kita hidup sesuai dengan hukum dan perintahNya atau selaras dengan apa yang Ia praktekkan, maka kita akan dihantar pada keselamatan dalam diriNya. Kita perlu menyadari bahwa tidak ada hukum dan aturan yang dapat membebaskan kita serta menghantar kita pada keselamatan kecuali hukum yang secara nyata ada dalam pribadi Yesus. Untuk itu marilah kita hidup sesuai dengan perintahNya, berjalan dalam terang kasihNya supaya kita semua memperoleh keselamatan berkat kesetiaan dan ketaatan kita kepadaNya.
Fr. Alfius Davin Welerubun
“Jangan kamu menyangka bahwa aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, semoga kami selalu setia menaati hukum dan menaruhnya di dalam hati kami. Amin.











