“BERKAT DARI KERENDAHAN HATI”: Renungan, Senin 4 Maret 2024

0
1140

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U)

BcE. 2 Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; 43:3,4; Luk. 4:24-30.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini sangat menarik untuk kita renungkan bersama. Dalam bacaan pertama diceritakan tentang Naaman yang disembuhkan. Naaman adalah seorang panglima raja Aram. Ia merupakan seorang yang sangat terpandang di hadapan tuannya. Artinya Aram ini orang yang sangat penting di dalam kerajaan. Namun, ada satu hal yang menjadi kekurangannya yaitu ia menderita penyakit kusta. Awalnya ia tidak yakin dan panas hati karena ragu akan disembuhkan karena nabi Elisa hanya menyuruhnya mandi tujuh kali di sungai Yordan. Namun setelah diperbuatnya demikian ia kemudian menjadi sembuh.

Injil Lukas menceritakan kisah tentang pengalaman pahit Yesus yang ditolak di Nazaret. Hal itu terjadi karena Yesus mengatakan perihal tentang seorang nabi yang tidak dihargai di negerinya sendiri. Oleh sebab itu nabi diutus di tempat lain yang bisa diterima oleh orang-orang. Nabi tersebut tidak lain adalah diriNya sendiri. Banyak orang di tempat tinggalnya itu yang tidak menerima diriNya padahal Dialah, Sang Mesias. Mereka bahkan membawanya ke tebing dan hendak mendorongnya agar jatuh. Namun, Yesus lewat di tengah-tengah mereka dan pergi kepada siapa saja yang mau mendengarkan dan menaatiNya agar mereka memperoleh hidup yang kekal.

Bacaan-bacaan hari ini hendak mengajak kita semua untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Rendah hati berarti kita mengenali Tuhan dengan penuh syukur dan memahami bahwa kita membutuhkan Tuhan sebagai sumber berkat. Dalam hidup sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada berbagai macam persoalan. Kita merasa bahwa kita mampu menghadapinya dengan kemampuan yang terbatas. Alhasil kita menjadi sombong.

Pribadi yang sombong mendatangkan keangkuhan dan tinggi hati, sehingga sulit untuk memperoleh berkat dalam hidup. Membayangkan bagaimana seorang ingin sembuh dari penyakit tetapi tidak mau minum obat, seorang ingin mendapat juara di kelas tetapi malas belajar, seorang ingin sukses tapi malas bekerja. Bagaikan harapan yang tidak mau diwujudkan dalam realitas. Semuanya itu hanyalah mimpi.

Sebagai orang beriman, kita harus rendah hati, memohon dan menaruh harapan pada Tuhan yang adalah sumber berkat. Seperti Naaman orang Aram, yang bukan orang Israel,  memperoleh kesembuhan karena datang dan memohon kepada Allah. Sebaliknya di Nazaret Yesus tidak mengadakan mujizat di sana walaupun kampung halamannya sendiri. Hal itu dikarenakan keangkuhan dan kesombongan yang menjadi pagar pembatas tak sampainya berkat dari Tuhan.

Fr. Titus Paulus Maru

Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel” (2Raj. 5:15).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami rendah hati dan selalu berserah diri pada Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini