Hari Biasa (H).
BcE 1Sam. 9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mrk. 2:13-17.
Mencintai orang yang berjasa, orang yang mencintai dan dekat dengan kita adalah hal yang biasa dan semua orang pasti bisa melakukannya. Namun, mencintai orang yang tidak mencintai kita, orang yang tidak berjasa dan tidak dekat dengan kita adalah hal yang sulit dalam hidup ini. Apalagi mencintai orang berdosa. Pasti mustahil, dekat saja sulit apalagi mencintai.
Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit. Kalimat ini sangat jelas menggambarkan kedatangan dan kehadiran Yesus di dunia ini untuk menyelamatkan semua orang, baik orang benar dan berdosa. Kita semua adalah anak-anak Allah maka kita semua dipanggil untuk menjadi pelita yang membawa dan menghadirkan cahaya di tengah-tengah sesama yang membutuhkan kita, terlebih khusus orang-orang sederhana, miskin, terpinggirkan dan berdosa.
“Ikutlah Aku!”. Kata-kata Yesus ini ditujukan kepada seorang Lewi yang adalah pemungut cukai dan untuk kita semua sebagai orang yang berdosa. Pastinya kita akan bertanya apakah tidak salah Yesus memanggil seorang pemungkut cukai dan duduk makan bersama-sama dengannya. Padahal dia adalah orang berdosa. Panggilan Tuhan adalah panggilan yang terbaik dan istimewa. Yesus mengetahui dengan baik dan benar si pemungut cukai. Yesus mendekati dan memanggilnya agar ia dapat memperoleh keselamatan melalui pertobatannya. Kita pun demikian dipanggil untuk bertobat agar memperoleh keselamatan.
Ketika ia memutuskan untuk mengikuti Yesus, ia mulai percaya dan bertobat. Dia yang awalnya seorang pendosa, kini menjadi pemenang di dalam Yesus. Yesus adalah sosok yang mampu mengubah setiap orang menjadi lebih baik. Semuanya karena Ia mencintai semua insan, baik yang baik, benar dan yang tidak baik bahkan orang berdosa. Yesus tidak memandang siapa kita, latar belakang kita dan lain sebagainya. Ia mencintai kita semua dan ingin agar kita semua memperoleh keselamatan di dalam-Nya. Tindakan Yesus yang mendatangi, mendekati dan memanggil orang berdosa ini dan memulihkannya adalah tindakan Yesus yang sungguh-sungguh menghadirkan dan menyatakan kemuliaan Allah, kerajaan Allah di tengah-tengah dunia.
Marilah pada hari ini kita belajar dari sosok Yesus yang tidak memilih-milih orang untuk mendekati mereka, belajar untuk mencintai sesama kita tanpa melihat latar belakang, profesi, atau jabatan. Cintailah semua orang dengan tulus dan ikhlas sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Yesus dalam bacaan injil hari ini. Jadilah pribadi-pribadi yang mengutamakan cinta kasih dalam hidup ini. Cintailah orang lain sama seperti kita mencintai diri kita dan mencintai Allah. Karena dengan demikain maka kita akan menjadi pemenang di hadapan Allah dan diselamatkan.
Fr. Brayen Ngilamele
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2: 17).
Marilah berdoa:
Allah Mahabaik, mampukanlah kami untuk mencintai sesama kami seperti kami mencintai diri kami dan Engkau. Amin.











