“TERGERAK OLEH BELAS KASIH”: Renungan, Kamis 11 Januari 2024

0
919

Minggu Biasa I (H)

1 Samuel. 4:1-11; Mzm. 44:10-11,14-15,24-25; Mrk. 1:40-45

Belas kasih merupakan sebuah sikap dalam hidup. Sikap hidup yang didasarkan pada tiga hal, yakni melihat, tergerak dan bertindak. Semuanya diawali dengan melihat. Artinya, melihat orang lain dalam keunikan dan martabatnya. Melalui aktivitas melihat, kita kemudian menjadi tergerak karena orang lain dan perlahan membiarkan orang lain masuk dalam hati kita. Kemudian, secara perlahan-lahan pula, kita mulai menunjukkan rasa belas kasih kita melalui sikap atau tindakan.

Namun, di masa sekarang banyak orang yang lupa akan makna belas kasih. Mengapa? Karena mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri (egois). Sehingga, hal tersebut membuat mereka tidak lagi mementingkan orang lain yang ada di sekitar. Padahal sikap belas kasih selalu berkaitan dengan sikap solider dan tidak egois kepada sesama.

Ketidakpedulian juga secara implisit diungkapkan dalam bacaan pertama. Namun, ketidakpedulian di sini tidak ditujukan kepada manusia, melainkan kepada Allah oleh bangsa Israel. Mengapa? Hal ini dikarenakan bangsa Israel meyakini bahwa Allah sengaja membiarkan mereka kalah dari bangsa Filistin. Padahal bangsa Israel telah berseru-seru dengan nyaring sambil memohon perlindungan kepada Allah.

Apakah benar bahwa Allah tidak peduli atau mungkinkah Allah menahan belas kasihNya kepada bangsa Israel? Tentunya tidak. Ada kalanya Allah tidak menolong dengan tujuan membuat kita semakin kuat, tahan uji dan tahan banting. Selain itu, melalui ketidakpedulianNya, Allah menguji kita untuk melihat sejauh mana kesetiaan kita kepadaNya.

Berbanding terbalik dengan pengalaman bangsa Israel ini, dalam Injil sesungguhnya Yesus secara nyata menunjukkan belas kasih itu dengan menyembuhkan seseorang yang sakit kusta. Mulai dengan melihat orang tersebut, kemudian tergerak oleh belas kasihan kepada orang itu, sehingga Ia pun mengambil sebuah sikap atau tindakan menyembuhkan. Hal ini mau menunjukkan bahwa Allah adalah sumber kasih. Melalui Dialah, kita dapat melihat bagaimana kasih itu tersalurkan secara nyata dalam kehidupan.

Maka, sebagai pengikutNya, kita dituntut untuk dapat berbuat sama seperti Dia. Dengan mulai menanamkan dan menumbuhkan rasa solidaritas atau kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, saat kita melihat orang lain menderita, secara spontan kita pun tergerak hati oleh belas kasihan untuk bertindak menolong orang tersebut.

 Fr. Simson Bawinto

 “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mrk. 1:41).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarlah aku menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini