“PERTEMUAN YANG DISYUKURI”: Renungan, Sabtu 30 Desember 2023

0
880

Hari keenam dalam Oktaf Natal (P)

1 Yoh. 2:12-17; Mzm. 96:7-8a,8b-9,10; Luk. 2:36-40

Seorang nabi adalah seorang penyambung lidah Allah. Penyambung lidah Allah berarti menyampaikan sesuatu yang telah difirmankan atau disampaikan oleh Allah. Seorang nabi juga dipercayakan untuk bernubuat tentang sesuatu di masa depan. Bernubuat adalah suatu anugerah dari Allah sendiri. Maka dari itu, tidak semata-mata seseorang bernubuat dari dirinya sendiri.

Hana adalah seorang nabi perempuan, yang telah menjadi janda selama bertahun-tahun. Namun, pengharapannya akan kedatangan Mesias tetap hidup. Ia mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita memiliki pengharapan pada Tuhan, itu dapat menguatkan kita bahkan dalam saat-saat sulit. Pengharapan kita pada Kristus haruslah kokoh dan tak tergoyahkan. Hana adalah contoh ketaatan yang luar biasa dalam ibadah. Ia tidak hanya berdoa dan berpuasa, tetapi ia juga tetap berada di Bait Suci dari pagi hingga malam hari. Ini mengingatkan kita akan pentingnya ketaatan dalam beribadah. Ketika kita tekun dalam beribadah, kita membuka diri untuk pengalaman yang lebih dalam dengan Tuhan.

Saat Maria dan Yusuf membawa Yesus yang masih bayi ke Bait Suci, Hana merasakan kehadiran Roh Kudus dan tahu bahwa Anak ini adalah jawaban dari segala kerinduannya. Ini bukanlah pertemuan kebetulan; ini adalah pertemuan yang diatur oleh Allah. Hana segera memuji Allah dan berbicara tentang Yesus kepada semua yang menantiNya. Ini mengajarkan kita bahwa ketika kita memiliki pertemuan yang mendalam dengan Tuhan, kita akan merasa terpanggil untuk membagikan sukacita dan kebenaran tersebut kepada orang lain. Kita dapat selalu bertemu dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi atau pun dalam doa-doa pribadi kita. Orang-orang yang selalu mengikuti Ekaristi atau berdoa, pastinya adalah orang-orang yang selalu bersyukur kepada Allah dan dipenuhi dengan rasa sukacita yang luar biasa.

Dalam Injil Lukas 2:40 dikatakan, “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya”. Belajar dari perkembangan Yesus yang bertumbuh, kita juga harus bertumbuh menjadi lebih besar dalam kasih karunia Allah. Pertemuan dengan Tuhan tidak hanya satu kali, tetapi merupakan dasar pertumbuhan rohani kita. Ketika kita merenungkan tentang pertemuan kita dengan Tuhan, kita juga harus mencari pertumbuhan dalam hikmat, kasih, dan karuniaNya.

Oleh karena itu, mari kita membangun hidup rohani yang mantap, membangun relasi yang mendalam dengan Yesus, menjadi juga nabi kecil untuk sarana pewartaan karya keselamatan Allah, agar supaya kita dapat lebih mengenal Dia yang merupakan sumber penghiburan, sukacita dan pengharapan kita dalam hidup.

Fr. Eduard Risky Mayokan

” Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa” (Luk. 2:37).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami selalu bersyukur ketika merasakan kehadiranMu di dekat kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini